Cerpen Sabtu: Senja di Alun-Alun Kota

Bagaimana tidak? Meski mereka tidak berdomisili di kabupaten ini, tetapi rasanya mereka orang-orang terbaik untuk kabupaten ini. Merekalah manusia pilihan. Kualitas individu kelas satu. Gabungan kecakapan sekaligus religiositas nomor wahid. Tak syak lagi, mereka jelas sosok sempurna yang pantas memimpin kabupaten ini.

Kampanye mereka selalu dipadati ribuan massa. Orang rela datang berbondong-bondong demi mendengar petuah-petuah mereka yang bijak bestari. Belum lagi cara mereka bertutur dalam orasi, ah, terdengar lembut tetapi tegas. Pilihan katanya santun sekaligus bernas. Gairah yang mampu menyihir kami untuk selalu mengelu-elukan nama mereka.

Setiap mereka datang, banyak yang berebut ingin foto bersama. Tak heran, karena wajah mereka memang laksana bintang yang bercahaya. Mereka sudi berbaur dan membiarkan pendukungnya mengabadikan momen bersama. Sungguh pasangan yang berakhlak mulia.

Aku masih tak habis mengerti, mengapa ada orang yang justru mengolok-olok mereka? Membuat meme yang menghina di media sosial, ditingkahi komentar-komentar yang sama sekali tak patut ditujukan kepada pribadi yang alim lagi tawadhu. Apakah orang-orang itu sudah buta mata hatinya? Apakah program-program paslon orang-orang itu lebih baik? Cih! Jelas tidak mungkin. Derajat kesalehan paslon orang-orang itu sudah pasti di bawah paslon pilihanku.

Yel-yel pun kembali membahana.

“Nggak usah terlalu fanatiklah, Bi,” ujar istriku tiap kali aku hendak menghadiri kampanye partai pengusung paslonku. “Dukung, ya, dukung. Tapi, kan, nggak harus tiap kampanyenya didatangi.”

“Justru kita harus fanatik, Mi,” balasku keki. “Karena mereka yang akan mengubah hidup kita. Yang akan membuat kabupaten ini sejahtera. Memangnya Umi mau kita jadi guru honorer terus? Yang tiap bulan selalu kekurangan?”

“Umi paham. Tapi, yang mengubah hidup kita, kan, bukan mereka, Bi. Melainkan diri kita sendiri,” sahut istriku dengan wajah seperti es lilin.

Aku pura-pura tak mendengar.

“Memangnya kalau mereka terpilih, beras kita otomatis selalu ada? Memangnya caleg-caleg yang kemarin kampanye, yang sekarang sudah duduk di gedung parlemen, akan menyumbangkan gaji, tunjangan, dan fasilitas yang mereka dapatkan untuk kita? Kan, enggak. Setelah pemilihan selesai, ya sudah. Kita tetap saja pontang-panting sendiri memenuhi kebutuhan hidup kita.”

“Umi ini seperti orang yang tidak bisa bersyukur. Tuhan sudah menunjuk paslon terbaik untuk kemakmuran kabupaten ini, Umi malah sinis terus bawaannya.”

“Umi bukan sinis, Bi. Umi hanya realistis.”

“Realistis! Realitis! Justru dengan selalu menghadiri kampanye mereka, Abi sedang ikhtiar,” kataku seraya menaikkan ritsleting jaket. “Sudah. Mana Haikal? Kal… Haikal… Jadi ikut ke alun-alun nggak?”

Istriku mengernyit. “Alun-alun mana?”

“Kota.”

“Astaga. Alun-alun kota, kan, jauh, Bi? Apa harus ngajak Haikal?”

“Daripada cuma main nggak keruan, lebih baik dia melek politik.” Segera kuraih helm yang menggelantung di setang motor.

“Tapi peraturan kampanye nggak boleh bawa anak kecil, Bi.”

“Peraturan yang dibuat oleh orang-orang munafik harus dilawan!” kataku tegas. “Haikaaal…”

Kudengar istriku mendengus. “Terserah Abi sajalah. Umi cuma ngingetin,” tukas istriku dengan mimik serupa es mambo. “Yang pasti, ke alun-alun kota butuh bensin nggak sedikit, dan di kulkas persediaan telur kita tinggal empat. Tiga untuk makan malam ini, satu untuk sarapan Haikal besok,” lanjutnya sambil meninggalkan aku di teras rumah.

Sejenak aku termangu, tetapi cepat-cepat kutepis pikiran itu.

Tak berapa lama, anakku datang sambil berlari-lari. Ia baru tujuh tahun. Masih kelas dua SD. “Kita mau main mobil-mobilan, ya, Bi?”

“Loh, kok main mobil-mobilan? Sore ini ada kampanye di alun-alun kota. Kita harus memberi dukungan.”

“Dukungan?” Kulihat ia mengernyit heran.

* * *

Rasanya bergetar hati ini mendengar orasi cabup idolaku. Aku yakin, kelak saat paslon pilihanku dilantik, semua persoalan hidupku bakal teratasi. Karena merekalah yang akan menghancurkan segala bentuk kezaliman. Menegakkan kembali hukum di kabupaten ini dengan seadil-adilnya. Betapa sosok pemimpin jujur, adil, serta amanah tecermin pada diri mereka.

Yel-yel pun terus berdengung.

“Seru, ya, Kal?” tanyaku pada Haikal. Kulihat ia cuma mendongak ke arahku. Apa boleh buat, jarang pandangnya memang terbatas.

Setelah doa bersama, cabup idolaku pun turun dari panggung. Orang-orang masih terus meneriakkan namanya. Cepat-cepat kutarik Haikal untuk mendekat ke jalur cabup idolaku berjalan. Aku ingin menyalaminya. Kalau perlu foto bersama. Namun, ternyata tidak mudah. Rupanya bukan aku seorang yang berpikir seperti itu. Ada puluhan, bahkan ratusan orang yang juga berusaha mendekati cabupku yang tampan laksana Nabi Yusuf.

Di tengah riuhnya suasana, tiba-tiba terdengar teriakan, “Minggir! Minggir! Beri jalan! Minggir!” Rupanya pasukan pagar betis mendorong-dorong massa yang mencoba mendekat serta menghalangi jalan sang cabup. “Minggiiir …”

Orang-orang saling dorong. Suasana nyaris kaos. Aku merasa kalah kekuatan. Dengan cepat kugendong Haikal. Berusaha keluar dari himpitan massa. Pasukan pagar betis tak kalah gesitnya. Dengan cekatan memasukkan sang cabup ke mobil besar berwarna hitam mengilat. Lantas dengen sirene meraung-raung berusaha menerobos lautan manusia, meninggalkan alun-alun kota.

Beruntung aku dan Haikal berhasil keluar dari kerumunan. Lantas duduk mengaso di sisi barat alun-alun. Keringat membasahi tubuhku. Untunglah tak terjadi apa-apa dengan Haikal. Sekali lagi kupandangi kerumunan massa yang masih tampak riuh.

“Bi,” panggil Haikal tiba-tiba. Seketika aku menoleh. “Haikal lapar,” akunya.

Aku tergemap. Jarak dari rumah ke alun-alun kota kurang lebih 30 km. Ditambah keriuhan suasana alun-alun, tentu membuatnya letih.

Pelan kukeluarkan dompet kulit yang warnanya tampak sudah pudar. Seingatku, uangku tinggal 50 ribu. Tadi di jalan harus beli bensin 30 ribu. Ketika kubuka dompet, benar, tampak selembar 20 ribu lusuh tengah menggigil kesepian di dalam. Tanpa sadar aku menelan ludah.

“Haikal mau makan apa?” tanyaku tak percaya diri.

“Apa aja, Bi.”

Mataku berhenti di sudut trotoar. Tampak sebuah gerobak mi ayam yang ramai oleh pembeli. Kurasa harga semangkuk mi ayam pinggir jalan tak kan sampai 20 ribu.

“Mi ayam mau?”

Haikal mengangguk.

“Tapi minumnya air putih aja, ya?”

Kami pun berjalan ke gerobak mi ayam. Haikal langsung duduk di kursi plastik yang tinggal menyisakan satu. Di gerobak kecil itu tertera menu: mi ayam biasa = Rp11.000, mi ayam + pangsit = Rp12.000.

“Bikin satu, Pak,” kataku pelan pada penjual mi ayam.

“Pakai pangsit?” tanya si bapak penjual.

“Pakai, Bi,” teriak Haikal girang.

Berarti dua belas ribu, kataku kecut dalam hati. Untung tadi motorku kuparkir di halaman Masjid Agung. Jadi tidak perlu membayar parkir. Parkiran masjid biasanya cukup berupa kotak bertuliskan: infak parkir.

Tak lama, semangkuk mi ayam terhidang mengepul di hadapan Haikal. Dengan cepat Haikal mengambil sendok dan garpu dari wadah plastik.

“Loh? Kok cuma satu?” Haikal mengernyit. “Abi?”

Aku menggeleng seraya tersenyum. “Abi masih kenyang. Sudah, makan.”

Haikal pun makan dengan lahap.

Karena tidak kebagian kursi, aku hanya berdiri sembari memandangi alun-alun yang sudah tak seramai tadi. Aku menengadah. Dalam hati ingin rasanya menangis. Sejujurnya aku pun lapar. Namun, selembar 20 ribu jelas tak cukup untuk membeli dua mangkuk mi.

Tiba-tiba terngiang kata-kata istriku: “Yang pasti, ke alun-alun kota butuh bensin nggak sedikit, dan di kulkas persediaan telur kita tinggal empat.” Ya Allah. Aku menghela napas. Cukup lama aku bermenung. Hingga dikagetkan oleh Haikal.

“Bi, sudah,” katanya sambil memegang tanganku.

“Oh?” Aku tergeragap. “Sebentar, Abi bayar dulu.”

“Bi, Haikal boleh main-main sebentar nggak?”

Aku mengangguk. “Tapi jangan jauh-jauh, ya.”

Ia pun berlari ke teras alun-alun. Sementara aku membayar belanja mi ayam. Usai membayar, aku terlonjak kaget demi melihat Haikal sudah duduk di jok mobil-mobilan bertenaga aki yang banyak disewakan di teras alun-alun. Seorang lelaki berdiri di sampingnya, tampak sedang menjelaskan cara menjalankan mobil-mobilan tersebut.

Tanpa pikir panjang, segera aku berteriak memanggilnya. Seketika Haikal menoleh, turun dari mobil-mobilan, dan berlari ke arahku.

“Kenapa, Bi?”

“Kok naik mobil-mobilan?”

“Haikal cuma pengin nyoba, Bi.”

Aku tertegun. Berjongkok di hadapannya, kugenggam kedua lengannya, dan kupandangi matanya. “Haikal belum pernah nyoba, ya?” tanyaku iba.

Ia mengangguk penuh harap.

“Tapi itu harus bayar, Kal,” kataku hati-hati.

“Oh?” Ia mengernyit. “Bukan bebas main?”

Aku memaksakan diri tersenyum, sementara hatiku serasa diganduli batu sebesar gunung.  “Lagi pula sebentar lagi magrib. Kita harus ke masjid dan cepat-cepat pulang, kan?”

Haikal mengangguk.

“Nggak pa-pa nggak main mobil-mobilan?”

“N-g-g-a-k p-a-p-a,” jawabnya terbata.

Aku tahu hatinya kecewa. Ia tampak berusaha keras menahan tangis. Sementara aku pun tak kalah hebatnya menahan bendungan air mata. Rasanya kami berdua sudah menjelma menjadi dua orang pembohong.

Senja pergi dengan enggan. Matahari sudah pamit pergi tanpa permisi. Azan Magrib pun bersipongang. Sambil kugandeng tangannya, kami menyeberang jalan menuju Masjid Agung, untuk salat berjemaah.

Pada sujud rakaat terakhir salat, rasanya tubuhku bergetar. Air mataku tumpah, tak bisa kubendung lagi. Aku menangis sejadi-jadinya.

Ya Allah, ampuni aku. Aku telah zalim terhadap anak dan istriku. Aku lebih mementingkan egoku ketimbang keluargaku. Ampuni aku, ya Allah. Ampuni aku.

Usai salat, setelah berzikir dan berdoa, segera kubuka telepon selulerku. Rupanya ada pesan dari istriku, menanyakan keberadaan kami. Cepat-cepat kutelepon istirku.

“Abi nelpon siapa?” tanya Haikal yang sejak tidak masih bersila di sampingku.

“Sebentar,” kataku. “Halo? Asalamualaikum. Mi, kami masih di masjid. Baru selesai magrib. Kenapa? Iya, ini udah siap-siap pulang kok, Mi… Oya, Mi, nanti tolong siapkan pakaian untuk Abi sama Haikal, ya. Besok subuh kami mesti berangkat ke ibu kota. Naik bus. Ada kampanye akbar di sana. Apa? Kenapa? Oh, nanti Abi bisa kasbon di sekolah kok. Apa? Halo? Halo? Mi? Umi?”

* * *

Bandung, 6 November 2024.

CERPEN SABTU: Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu dari Ditjen Kebudayaan, Kemdikburistek RI. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu. Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==