Dulu aku seorang pemurung. Tiap hari dalam hidup kulalui dengan kemurungan. Apa saja aku pandang dengan murung. Ayah membelikan aku mobil, aku murung. Ibu menghadiahkanku kartu kredit tanpa limit, aku murung. Aku berprestasi di sekolah, pun saat kuliah, aku murung. Kekasihku rajin datang menemuiku, aku juga murung. Bahkan ketika Ayah terpilih menjadi gubernur, aku pun murung. Gila! Pokoknya tak ada yang tak membuatku murung.

“Anakku, bisakah sekali saja Ayah melihat kau tidak murung begitu? Hari ini Ayah akan dilantik menjadi gubernur, setidaknya tersenyumlah sedikit. Atau kalau perlu tertawalah sepuasmu. Apa kau tidak bahagia Ayah menjadi gubernur? Kau tahu anakku, selangkah lagi, Ayah bahkan bisa menjadi presiden; presiden negeri gemah ripah loh jinawi.”
Tetapi aku sungguh tak peduli dengan perkataan Ayah, aku tetap saja murung. Habis sudah mungkin galah kesabaran Ayah, aku pun tidak diajak ikut menghadiri pelantikannya. Ibu yang sudah dandan super cantik, super model: muntab. Ibu cari dompetku, lalu mengambil kartu kredit yang pernah diberikannya. Aku tetap santai sambil tetap juga murung.

Waktu pun berjalan sebagaimana mestinya. Ayah semakin hari semakin terobsesi menjadi presiden, dan Ibu sudah pula tak sabar ingin menjadi Ibu Negara. Ayah menjadi semakin rajin ke pasar-pasar tradisional dan ke perumahan kumuh Ibu Kota. Sesekali Ayah juga tak segan masuk ke dalam got, memastikan got tidak tersumbat. Makan di warteg, naik Vespa atau sepeda ke Balai Kota, meskipun mobil di garasi berjejer tiga. Kadang muncul kegelian saat melihat Ayah melakukan itu semua. Tapi lagi-lagi aku hanya geli belaka. Tak sedikit pun terbit senyuman dari bibirku, pula tertawa membayangkannya.
Melihat prestasi Ayah mengubah kota provinsi menjadi lebih maju dan tertata, ketua-ketua partai menjadi rajin datang ke rumah bertamu. Beberapa dari mereka ada yang Ayah kenalkan kepadaku. Namun karena aku tak kunjung tersenyum, Ayah pun kesudahannya malas mengenalkanku kepada orang-orang politik itu.

Pernah sekali waktu, salah seorang ketua partai itu bertanya perihal wajahku yang selalu murung kepada Ayah. Tentu saja Ayah menjadi kikuk menjelaskannya. Buru-buru Ayah alihkan pembicaraan. Seolah tak ingin ketua partai itu tahu lebih jauh perihal wajahku yang selalu murung.
Sebenarnya aku bukan tanpa sebab menjadi murung seperti saat ini. Ceritanya mungkin akan terdengar biasa saja, tapi sungguh itulah muasal sebab aku murung. Suatu kali saat aku berusia 7 tahun, aku ingin sekali mandi hujan seperti teman-temanku yang lain. Namun, Ibu melarangku. Aku menangis sejadi-jadinya. Kesedihan terasa mencengkram jiwaku begitu erat. Aku tak tahu kenapa aku merasa begitu sedih ketika Ibu melarangku mandi hujan bersama teman-temanku. Padahal ketika aku minta dibelikan sepatu bola, dan Ibu tidak mengabulkannya dengan alasan menjadi pemain sepak bola tidak akan membuat seseorang menjadi kaya, aku sama sekali tidak kecewa konon pula menangis.
Kesudahannya, setelah aku berhenti menangis, kemurungan seolah-olah betah melekat dan tak kunjung mau pergi dari wajahku. Aku pun mulai menjadi anak pemurung hingga sampai terjadi sesuatu yang juga pasti terdengar biasa dan sepele, namun begitu dahsyat mengubah semuanya.
Beberapa hari yang lalu, sebuah pesan WA masuk ke ponselku. Pesan itu berbunyi: Salah satu kemewahan yang ada pada manusia, namun acap lupa dipergunakan manusia adalah tertawa. Maka tertawalah! Tertawakanlah kesedihanmu, tertawakanlah kegembiraanmu, tertawalah saat kau ditipu manusia, pun ketika kau menipu manusia lain. Tertawalah saat cintamu bertepuk sebelah tangan, juga ketika cintamu bertepuk-tepuk bak sebuah perayaan akbar nan mewah. Percayalah tertawa itu sehat. Sedangkan murung hanya akan membuat usiamu bertambah lebih tua 10 sampai 15 tahun dari usia yang sesungguhnya.
Aku tersentak kaget membacanya. Semua peristiwa-peristiwa penting maupun yang tak penting dalam hidupku; sedih maupun senang dalam hidupku mendadak menyerbu memenuhi kepalaku. Lalu, beberapa peristiwa lucu dalam hidupku yang kembali hadir dalam kepalaku berhasil membuat mulutku perlahan merenggang. Meski belum begitu lebar merenggang, aku mulai merasakan wajahku mengalami perubahan. Sungguh sebuah perubahan yang tak biasa menurutku.

Spontan aku berlari ke arah cermin. Wajahku yang semula tampak begitu kusut dan berkerut-kerut menua, perlahan tampak seperti tertarik dan terasa mulai ketat kembali. Aku lihat dalam cermin wajahku menjadi sedikit lebih muda dari sebelumnya. Seketika muncul perasaan gembira dalam hatiku. Perasaan itu begitu nyaman serta sejuk terasa. Tubuhku pun menjadi seperti ingin bergerak-gerak; macam ada yang menyuruh mungkin juga sudah meminta untuk melakukan sebuah gerakan yang aku yakin sungguh tak pernah kulakukan atau kulihat sebelumnya.
Pelan-pelan kugerakkan tanganku. Lalu, gerakan itu memintaku untuk mengembangkan tanganku serupa sayap burung. Kemudian, entah dari mana datangnya, sebuah dorongan yang kuat memintaku untuk berputar-putar. Tak kuasa aku melawan, aku ikuti saja permintaan itu. Aku pun berputar-putar. Kepalaku yang semula tegak lurus, juga dipaksa untuk miring ke arah sebelah kanan.
Beberapa saat setelah berputar-putar, aku terjatuh. Kepalaku terasa teraduk-aduk dan menjadi pusing. Namun anehnya, tubuhku seperti menginginkannya lagi. Aku berdiri kembali dan mengulangi gerakan yang sama, sampai akhirnya aku berputar-putar selama satu jam dan tanpa merasakan apa-apa, selain sebuah kebahagiaan yang entah karena apa dan dari mana datangnya memenuhi hatiku. Penuh sekali sehingga sulit aku menjelaskannya. Kebahagiaan macam apa ini?

Aku tersenyum. Puas sekali. Meski keringat merembes menembus pakaianku. Aku kembali berdiri di depan cermin. Dan betapa terkejutnya aku, ketika kulihat wajahku berubah serupa wajahku ketika masih berumur tujuh tahun yang saat itu mulai murung karena tak diberi Ibu izin mandi hujan. Aku sungguh terpana melihat wajahku sendiri.
Aku berputar-putar kembali. Kali ini semakin cepat, dan kurasakan gerakanku telah menyerupai sebuah gasing. Kemudian aku terjatuh, lalu tertawa sekuat-kuatnya suara yang kumiliki.
Ayah dan Ibu yang malam itu sedang kedatangan tamu beberapa ketua partai terkejut dan berhamburan masuk ke dalam kamarku.
“Mahli, Mahli, kau kenapa?”
Aku terus saja tertawa. Tertawa yang semakin keras. Aku sungguh tak peduli apapun. Ayah dan Ibu sepertinya tidak melihatku. Tapi terang kulihat kecemasan memancar dari wajah mereka.
“Bayi siapa ini? Kemana Mahli pergi?”
Akasia, 2024

BIODATA SINGKAT
ILHAM WAHYUDI. Lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Beberapa cerpennya ada yang dimuat dan ada yang ditolak. Buku kumpulan cerpennya “Buku Latihan Menulis Cerpen” sudah terbit dalam bentuk digital.

REDAKSI CERPEN SABTU: Cukup 500 – 1000 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan Cc ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.


