Cerpen: Si Belang yang Malang, Kau Akan kukenang

                Si belang beranjak dewasa dan menemukan pasangannya. Dia kini sedang bunting besar. Di suatu malam dia mengeong-ngeong menghiba meratap pilu di depan pintu berharap agar si tuan rumah membukakan pintu, mengijinkan dia masuk untuk persiapan persalinannya. Namun tak satupun yang menghiraukannya. Di sepanjang malam lirih kudengar suaranya mengeong-ngeong seakan minta pertolongan. Bukannya tega tapi masak rumahku di jadikan tempat persalinannya, gumamku. Hanya doa  kupanjatkan untuknya semoga dia baik seperti sedia kala.

Keesokan harinya kulihat diteras rumah, box tempat suamiku menyimpan pekakas sudah diisi si belang bersama ke 4 anaknya. Dia rupanya melahirkan semalam. Seminggu kemudian dia mencari tempat baru yang aman. Konon menurut orang tua, memang tabiat Kucing begitu, akan berpindah-pindah tempat hingga 7 kali.

Pernah sekali waktu Si Belang menggendong anaknya masuk ke kolong lemari, susah dikeluarkan takut mati terjepit. Oleh karenanya sejak itu  rumah Kami selalu tertutup,  takut dia mengulang kejadian serupa.  Si belang menempati gerobak teras rumah tetangga sebelah rumahku. Dua ekor anaknya di ketahui mati tak tau penyebabnya, mungkin karena faktor kedinginan di musim penghujan.

Di suatu sore ada teman suamiku yang berkunjung ke rumah, Manto namanya.  Biasanya orang yang datang ke rumah lebih menyukai duduk di teras rumah sambil melihat orang yang lalu lalang karena rumah kami dekat jalan raya.  Pun begitu, teman suamiku yang satu ini. Dia senang berlama-lama duduk ngobrol sambil mengamati kendaraan yang silih berganti. Anak si belang yang mulai membesar tiba-tiba muncul di hadapannya. Bulunya bersih mengkilat, perilakunya yang menggemaskan mencuri perhatian teman suamiku.

“ Itu kucing siapa lucu sekali”, katanya.

“Kucing liar. Nggak ada yang punya. Ambil aja kalau mau,” jawab suamiku.

“Okelah, besok sore akan saya bawa ke rumah,” Manto senang. 

Keesokan harinya kudengar tutur kabar dari suamiku bahwa kucing yang akan diambil Manto tertabrak motor yang lewat dan jasadnya dikubur di sebelah kiri jalan depan rumahku.

Berita itu terdengar pula oleh Manto. ”Yah, sayang sekali.Malang sekali nasibmu,” ujarnya.

“Kemarin kendaraan penuh hilir mudik. Kucingnya nggak mau diam, bolak-balik terus. Akhirnya terbentur motor,” balas suamiku.

“Andai saja aku bawa kemarin sore, mungkin kucing itu nggak akan tertabrak, “ tutur Manto menyesal.

“Mungkin ini  sudah garis nasibnya,” ucap suamiku.

                Waktu telah berganti, Si Belang jarang singgah ke rumah. Lama Aku tak mendengar kabar tentang keberadaannya.

 Di suatu senja, tiba-tiba suamiku berucap, “Kucing hitam-putih yang biasa ke rumah tadi pagi  mati ke terlindas  motor.”

“Oh, ya? Di mana kejadiannya? Kok, aku nggak tau?”aku heran.

“Di jalan samping rumah, itu juga aku tau dari Slamet,” ucap suamiku lagi.

“Waduh malang benar nasibnya. Persis anaknya  yang kemarin mati  juga tertubruk motor,” jawabku.

Si belang tidaklah lama tinggal bersama Kami, tidak kurang dari setahun. Tapi dia banyak memberiku kesan yang mendalam. Aku yang dulu agak keras dengan sosok bernama kucing, kini berubah menjadi lunak. Si Belang mengajari bagaimana gigihnya perjuangan bekerja keras mencapai sesuatu, terbukti saat mengintai mangsanya,  menunggu dengan sabar yang menghabiskan separuh waktunya. Belajar menerima setiap peristiwa dengan lapang dada.

Si belang yang malang, Kau akan ku kenang. *

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==