Pengantar: Fiksi mini versi Gol A Gong adalah cerita pendek antara 300 – 500 kata, 1 lokasi, dan twist ending. Jika pun pindah lokasi, itu hanya ada dalam dialog. Di fiksi mini berjudul “Dancing Queen” ini, lokasinya hanya di Rendez-vousCafe. Tiga tokoh; aku, Che, dan si Penrai. Selamat membaca dan rasakan twist endingnya (cerita yang diplintir).
DANCING QUEEN
Fiksi Mini Gol A Gong
Aku aduk-aduk jus alpukat. Sudah lima menit menunggu. Kencan buta memang membuat paru-paru seperti mau meledak. Di sebelahku, ada meja lain. Seorang perempuan mengenakan rok mini, kaos tanpa lengan, rambut sebahu, bibir dengan warna merah, kedua lengannya bergerak gemulai ibarat penari jaipongan. Seksi sekali.
Aku akui, dia ibarat magnet! Penuh pesona! Setiap orang terutama lelaki – yang masuk ke Rendez-vous Café ini, pertama kali yang dilihat, pasti perempuan yang sedang menari ini! Jika melihatku, tentu ibarat bumi dan langit. Para lelaki cenderung menghindari bersitatap denganku. Kata Ummi, aku harus menyembunyikan kecantikan di balik jilbab. Aku setuju. Kecantikan itu jangan diobral. Tapi, jika ada temanku yang mengobral kecantikannya, aku tidak akan usil. Biar saja seperti rel kereta api; rel kereta api itu tidak akan pernah bisa bertemu, tapi tetap satu tujuan, bergerak ke depan mewujudkan impian untuk sampai ke tujuan, yaitu: stasiun.
“Hobi menari, ya?”
Aku yang sedang memeriksa pesan-pesan yang masuk di inbox WA, mengangkat kepala. Siapa yang mengatakan itu? Hmm, ternyata seorang lelaki dengan celana jeans robek, kaos putih dilapisi jaket jeans dengan gambar Che Ghuevara ditempel di bahu kiri, logo perdamaian di bahu kanan.
“Kok, tahu aku hobi nari?”
“Ya, semua orang di café ini pasti tahulah, kamu hobi nari!”
Si gadis seksi tertawa menggoda. “Kok, nggak pake kemeja biru?”
“Dicuci!”
Aku terus saja menguping pembicaraan mereka, yang memang sembrono dan liar dengan nada dikeraskan. Mereka sengaja melakukan itu, agar semua orang di Rendez-vouz Café memerhatikan mereka. Aku menyimpulkan, mereka termasuk orang yang senang menjadi pusat perhatian.

Beberapa kali mereka sibuk ber-swafoto, berpose, membuat video, kemudian menggunggahnya di akun medsos.
“Kenapa, sih, kamu hobi nari?”
“Ibuku penari jaipong. Nurun ke anaknya!”
“Pantes, user name kamu ‘dancing queen’!”
“Dancing Queen?”
“Iya!”
“Aku nggak pake!”
Aku bangkit dan mendekati meja mereka. Semua harus aku sudahi sekarang.
“Maaf,” kataku.
“Ya? Ada apa, Mbak?” si penari menatapku.
“Aku mau bicara sama si Mas.”
“Bicara sama aku? Kenapa?”
“Kamu yang memakai user name ‘Che’, ya?”
“Ya, itu aku!”
“Aku ‘Dancing Queen’.”
Si Che menatapku; dia seolah sedang melihat hantu. Aku dan si Che berkenalan lewat aplikasi Cari Jodoh.
“Ya, aku si Dancing Queen. Hari ini kita kencan buta, janjian ketemu di sini.”
“Kenapa nggak bilang dari tadi?”
“Justru itu bagus. Aku jadi tahu, bahwa kamu buka cowok tipeku. Mohon maaf. Aku permisi. Silakan diteruskan,” aku langsung meninggalkan mereka.
Kedua telingaku masih bisa mendengar percakapan mereka selanjutnya. Aku sengaja melambatkan langkah kakiku, ibarat slow motion.
“Jadi, gimana?” si penari bingung.
“Kamu lagi ngapain di sini?”
“Aku juga lagi kencan buta! Nungguin seseorang! Tapi, dia gak datang. Aku pikir itu kamu!”
“Ya, udah. Kita jadian aja, ya. Si Dancing Queen juga bukan cewek tipeku.”
“Terus, cewek tipe kamu kayak gimana?”
“Ya, kayak kamu!”
Mereka tertawa gembira.
Aku hanya tersenyum.
*) Serang 6 Oktober 2022



