Di ruang tamu. Doni merapikan foto kopi KK, KTP, dan kartu nikah ke map hijau. Farhan menatapnya curiga.
Burhan meletakkan segepok uang di meja, “Lima juta!”
“Sepuluh juta, Abah!” Doni mengingatkan.
“Abah ingin nama imelnya ‘jawara’, ya! Supaya semua orang di internet takut sama Abah!“ Burhan alias si Abah, berdiri dan bertolak pinggang.
“Asiaaaap, Abah!” Doni memasukkan segepok uang bertuliskan Rp. 5 juta ke tas kecilnya. “Lima juta lagi sisanya, lunasin sekarang Abah! Buat bayar pendaftaran!”
“Tunggu, ya! Abah ambil uang sisanya yang lima juta!” Burhan masuk ke ruangan dalam.
Farhan berbisik, “Jadi, bikin email bayar sepuluh juta dan berkas-berkas itu termasuk persyaratannya?”
Doni menahan tawa. “Nama imelnya ‘jawara’, biar orang-orang di internet pada takut,” bisiknya tertahan. “Tuh, lihat,” Doni menunjuk ke dinding ruang tamu. Foto-foto si abah yang berpakaian serba hitam dengan golok terhunus. Ada foto bersama Kapolda, anggota DPRD, Bupati, Walikota, bahkan artis dang dut ibu kota.
“Dasar timses sialan kamu!” Farhan menggelengkan kepalanya sambil melihat ke dinding ruang tamu. “Kalau ketahuan, bisa-bisa golok si Abah menebas kepalamu!”
“Begitulah kualitas anggota dewan kita. Tidak makan sekolahan, cuma bermodalkan uang saja. Sebelum dia nipu kita nanti buat balik modal, kita tipu dulu dia!” Doni mengecup tas kecilnya.
Tiba-tiba muncul si Abah dengan golok terhunus. “Heh! Kalian pikir bah bodoh, ya!”
Farhan langsung bangkit dan mengangkat kedua lengannya. Doni melemparkan tas kecilnya yang berisi uang lima juta ke udara, saking kagetnya. Di pintu muncul beberapa anggota polisi.
(Gol A Gong/Foto medcom.id)



