Contoh Fiksi Mini: Nol Kilometer

Pengantar: Fiksi mini versi Gol A Gong adalah cerita pendek antara 300 – 500 kata, 1 lokasi, dan twist ending (plot twist). Jika pun pindah lokasi, itu hanya ada dalam dialog. Di fiksi mini berjudul “Nol Kilometer” ini, lokasinya outdoor dan hanya di pertigaan jalan. Selamat membaca dan rasakan twist endingnya (cerita yang diplintir).

NOL KILOMETER
Fiksi Mini Gol A Gong

Truk meminggir perlahan, kemudian berhenti.
“Sampai sini, Mas!” seru supir truk.
Almar seorang traveler yang duduk di bak truk melemparkan ransel.
Buk!

Almar turun dari truk yang membawanya dari kota lain. “Terima kasih, Bang!” Almar melambaikan tangan.
Supir truk tersenyum, kemudian di pertigaan truk itu berbelok ke kanan, sedangkan tujuan Almar ke kiri.
Almar berdiri di pertigaan. Dia celingak-celinguk. Di pertigaan itu hanya ada tugu bertuliskan “nol kilometer. Tak ada rumah. Sepi.

Almar berdiri saja di situ seperti patung. Langit di barat mulai kemerahan.
Beberapa truk yang lewat tidak mau berhenti, semua ke kanan.

Almar mulai cemas. Dia melihat lagi ke tugu. Arah ke kanan begitu gelap, sedangkan ke kiri hanya pepohonan.

Terdengar bunyi mesin kendaraan sayup-sayup, kemudian cahaya lampu. Motor! Almar menyetop. Tapi motor besar dengan dua boks di jok belakang itu terus saja, berbelok ke a rah kiri! Pengendara motor bejaket kulit itu memakai helm, sehingga tidak begitu jelas wajahnya.

Almar terduduk di atas ranselnya. Dia Kembali meneliti tugu “nol kilometer”. Beberapa truk Kembali muncul dan dia tidak lagi menyetop, karena semua berbelok ke kanan kemudian hilang ditelan kegelapan.

Terdengar lagi bunyi mesin. Dia melihat ke pertigaan. Ada sorot lampu motor dari arah kiri. Motor yang tadi melintas!

Almar berdiri.
Motor itu berhenti persis di depannya.
Almar terseyum, “Hello, Bang!

Si pengendara motor membuka helmnya. Wajahnya khas dari Indonesia Timur. Dia masih duduk di jok.
“Ke kanan atau ke kiri?”
“Ke kiri, Bang.”
“Sudah lama nunggu di sini?”
“Sejam!”
“Nggak akan ada kendaraan yang berani lewat sini!”
“Banyak, Bang. Truk! Tapi dia ke kanan!”

“Coba perhatikan baik-baik! Arah ke kanan itu tidak ada! Tugu ‘nol kilometer’ itu juga tidak ada.”
“Tadi saya ngikut truk, Bang. Diturunin di sini. Truknya ke kanan.”
“Untung kamu nggak dibawa ke kanan. Coba lihat lagi. Banyak baca do’a dari agama yang kamu yakini!”

Almar jadi ingat kebiasaannya membaca ayat Kursi. Guru ngajinya selalu mewanti-wanti, jika sedang melakukan perjalanan, ayat Kursi dapat melindungi dirinya dari gangguan setan, nafsu diri yang berlebihan, dan kejahatan.

Tapi Almar tadi lupa membaca do’a Kursi. Seingat dia, tadi menyetop truk di luar kota yang baru saja dilewati. Dia mengingat-ingat lagi. Tadi dia menyetop truk persis di depan pemakaman. Dia langsung beristighfar dan kembali membaca ayat Kursi.

Kini segalanya dengan jelas terbentang di depan matanya. Tidak ada pertigaan. Tidak ada tugu “nol kilometer”. Tidak ada belokan ke kanan. Hanya ada jalanan yang agak melengkung ke kiri.

“Ayo, naik!” si pengendara motor memasang kembali helmnya.
Almar tidak menunggu lama langsung menyandang ransel di punggungnya dan duduk dio boncengan!

Si pengendara motor langsung tancap gas, berbelok ke kiri. Almar menoleh ke belakang. Tidak ada pertigaan. Tidak ada nol kilometer.

*) Santika, 5 Januari 2025, BSD Tangerang.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==