Diskusi Buku Puisi Jumlah yang Tak Seimbang di Larantuka

Setelah acara dibuka Charles  Keban,  Silvester  Petara Hurit  mengatakan, “Roman Nama menulis puisi seperti bercinta. Ia tak perlu buru buru,  karena untuk melahirkan karya puisi membutuhkan proses dan ketekunan serta kecintaan. Karya yang hadir secara prematur akan hilang secara prematur.”

Meski begitu Silvester juga mengapresiasi  beberapa  diksi yang menarik dari beberapa  puisinya .Tidak banyak yang disampaikan  Silvester Petara Hurit karena harus pergi lebih dulu untuk menjadi juri di Adonara  dalam Festival Sepanjang Musim.

Sementara  Yurgo tertarik pada puisi berjudul “Akar” dimana seseorang mesti kembali ke akar, kembali kepada ayah, kepada ibu kebudayaan. “Roman Nama mampu membangunkan kata-kata yang tertidur,” kata Yurgo.

Diskusi  yang menarik ini diakhiri diskusi  bebas dari peserta yang hadir. (*)

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==