Setelah acara dibuka Charles Keban, Silvester Petara Hurit mengatakan, “Roman Nama menulis puisi seperti bercinta. Ia tak perlu buru buru, karena untuk melahirkan karya puisi membutuhkan proses dan ketekunan serta kecintaan. Karya yang hadir secara prematur akan hilang secara prematur.”

Meski begitu Silvester juga mengapresiasi beberapa diksi yang menarik dari beberapa puisinya .Tidak banyak yang disampaikan Silvester Petara Hurit karena harus pergi lebih dulu untuk menjadi juri di Adonara dalam Festival Sepanjang Musim.

Sementara Yurgo tertarik pada puisi berjudul “Akar” dimana seseorang mesti kembali ke akar, kembali kepada ayah, kepada ibu kebudayaan. “Roman Nama mampu membangunkan kata-kata yang tertidur,” kata Yurgo.
Diskusi yang menarik ini diakhiri diskusi bebas dari peserta yang hadir. (*)



