Saya jadi moderator sudah berlangsung di Papua (Februari), Sumenep (April), dan Singaraja (April). Para narasumber dan Perpusnas RI merasa cara seperti ini cocok. Para narasumber bisa dengan semangat memaparkan aktivitas dan pencapaiannya. Kemudian terasa sekali, bahwa Gerakan Literasi Lokal itu secara masif terjadi.

Saya memilih jadi moderator bukan tanpa alasan. Pertama, tentu informasi tentang apa yang saya lakukan sepanjang 35 tahun jadi aktivis literasi mudah diakses di internet. Tapi kiprah para pegiat literasi di daerah harus diberi panggung. Di Medan pada awal Mei, memang, saya masih diminta oleh Dinas Perpustakaan Sumatera Utara untuk jadi narasumber.

Sekarang pada 20-23 Mei 2024 ini di Ambon, saya jadi moderator. Acara bincang-bincang bersama Duta Baca Indonesia menghadirkan Aritha Muhlisa (pegiat literasi), Rudi Fofid (Penulis), dan Candra Henaulu (Forum Lingkar Pena Wilayah Maluku). Acara tersebut membahas seputar gerakan literasi di Kota Ambon dan dunia kepenulisan. Mereka dengan penuh semangat memaparkan aktivitas dan pencapaiannya. Kami dari Perpusnas RI dan para peserta yang berjumlah 200 orang mendapatkan pencerahan, bahwa Kota Ambon bukan hanya City of The Music, tapi literasi baca tulisnya juga berkembang.


Kini tersisa 15 lokus lagi hingga Desember 2024. Semoga saya sebagai moderator tetap diakomodir. Dan saya mendapatkan banyak ilmu dari para narasumber.
Gol A Gong, Duta Baca Indonesia, 2021-2025



