Setelah peresmian, acara dilanjutkan denga diskusi literasi. Sebagai pemantik Duta Baca Indonesia berbagi wawasan eman literasi dasar; literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi finansial, literasi sains, literasi digital, serta literasi budaya dan kewargaan. Acara diskusi literasi dihadiri 30 peserta dari pelajar, guru, mahasiswa, hingga anak-anak warga setempat.

“Saung Advokasi Farm ini adalah episentrum atau titik gempa literasi. Siapa yang mendekati akan merasakan efeknya. Insya Allah berkembang wawasan dan pemikirannya,” jelas Duta Baca Indonesia.

Pada kesempatan itu Duta Baca Indonesia juga menyarankan agar Saung Advokasi Farm berkolaborasi dengan penulis daerah. Agar kafe semakin hidup. Pada acara tersebut hadir dua relawan Rumah Dunia yang sudah menulis banyak buku; Ana Lestari dan Najwa Fadia.

Gufroni, penilik Saung Advokasi Farm menjelaskan bahwa kafe ini berkonsep kebun. Sudah ada berbagai tanaman seperti jambu air, anggur, dan markisa. Selain itu, ada spot-spot literasi seperti pengenalan tentang aneka ternak untuk anak-anak dan belajar berkebun serta petik sayuran bagi ibu-ibu atau pengunjung cafe.

“Selain itu insyaallah kedepannya kami juga menyediakan layanan free konsultasi hukum atau curhat hukum bagi para pengunjung yang datang. Atau juga saya sedikit memberi pencerahan hukum pada waktu-waktu tertentu,” ungkap Gufroni.





