Aku sama istri sudah nunggu film ini tayang di bioskop. Entah terlewat atau memang tidak diputar di kotaku, kami kehilangan momen nonton. Sampai sore ini akhirnya kesampaian nonton film ini berdua. Rencana dari kemarin, sih, tapi kami janjian nonton bareng saja biar nggak sepi.

Aku udah nungguin dari pagi, Tiasnya masih riweuh. Siangnya Tias ada waktu, aku ada acara dulu di Rendezvous Cafe Rumah Dunia. Begitu waktunya cocok, langsung bawa bantal, toples isi camilan, dan kebetulan aku beliin Tias coklat dari cafe. Kok bawa bantal? Ya karena nonton di rumah, streaming di Catchplay. ![]()

Kami nonton berdua karena streaming berbayar dan notifnya masuk ke SMS ponsel Tias. Jadi di rumah ini memang harus sepengetahuan Tias kalau mau beli tiket streaming tv kabel. Paling tidak, tetap ada pengawasan orang tua untuk anak-anak memilih tontonan. Ribet dikit, tapi lebih aman insyaallah.
Film ini berisi lika-liku seleb di dunia entertainment kelas dunia, di Amerika sana. Cerita dari sudut pandang menejer Elvis, Kolonel Parker yang menurutku memang brengsek. Tom Hanks boleh juga memerankannya – jadi mirip si Penguin di film Batman, ya.

Betapa berat kerja di dunia itu buat kita yang mentalnya lemah. Elvis yang malang. Intrik dan pengorbanan yang harus diberikan, haduh, aku mah bersyukur jadi orang biasa aja. Berasal dari keluarga menengah bawah, ketika sukses Elvis bisa beliin pink Cadillac dan tanah luas buat ibu, bapak dan keluarganya.

Saat nonton ini aku jadi diingatkan bahwa harta bukanlah segalanya meskipun dibutuhkan dalam hidup. DAku pernah baca biografi Elvis di beberapa versi. Saat Elvis meninggal sehari setelah ulangtahunku, 16 Agustus 1977 di kediamannya di Graceland. Umur Elvis masih 47 tahun. Saat itu aku masih di kelas 1 SMP. Aku membacanya di koran KOMPAS. Sedih sekali. Aku tidak begitu memercayai teori konspirasi, bahwa Elvis memalsukan kematiannya karena ingin meninggalkan dunia glamour.

Dari film ini bisa dilihat proses kreatif Elvis menciptakan lagu dan menemukan cara memuaskan penonton yang sudah memenuhi gedung pertunjukan. Ini film cocoknya untuk dewasa, walaupun minim adegan vulgar, tapi tidak disarankan untuk anak dan remaja. Bahasannya terlalu berat, kecuali orang tua mendampingi nonton dan menjelaskan ini-itu yang diperlukan anak.

Memang masih ada anak yang mau nonton bareng ortu dan dijelasin ini itu? Ada. Istriku begitu, kalau nonton sama anak, dia akan bisik-bisik kepada anak-anak sekiranya perlu penjelasan adegan. Kadang kala istriku minta anak baca review dulu buat tahu alurnya, terutama buat film yang rada absurd.

Ribet banget mau cari hiburan, yak? Gak apa-apalah, istriku mau ribet dikit atau banyak selama itu diperlukan anak, kok.
Nah, setelah selesai nonton, aku semakin benci kepada Tom Parker! Tapi aku memuji Sutradara: Baz Luhrmann. Juga Austin Butler sebagai Elvis – dia kesurupan roh Elvis! Suaranya, goyangannya. Wajahnya memag tidak terlalu mirip, tapi, tidak apalah. ![]()
Gol A Gong – Tias Tatanka


