Emak selalu memotivasi saya saat menjawabnya. “Panjang lagi. Sekarang ikuti apa yang Bapak perintahkan. Main badminton, baca buku, dan mendengarkan Emak bercerita sebelum tidur.” Maka, 3 hal itulah yang saya lakukan sehingga saya sekarang jadi Duta Baca Indonesia.

Setiap sore menemani Emak nge-teh

Saya tidak tahu, apa yang akan terjadi jika Emak saat ditanya tangan saya panjang lagi atau tidk menjawab seperti ini, “Dasar anak nakal! Pake otak! Mana bisa tangan diamputasi bisa tubuh lagi!”

Saya kecil berpikir, buntut cicak kalua putus pasti nyambung lagi. Gigi copot, tumbuh lagi. Kuku dipotong dan rambut dicukur, panjang lagi. Maka tangan kiri diamputasi, pikiran saya waktu itu: panjang lagi.

*** 

Setiap hari, jika saya bertanya, “Kapan panjang lagi, Mak?”

Emak dengan sabar menghibur, “Panjang lagi.”

Emk terus memotivasi saya, agar secara kontinu dan konsisten melakukan 3 hal yang disarankan Bapak, yaitu: berolahraga, membaca buku, dan mendengarkan Emak bercerita sebelum tidur.

Setiap bada subuh, Bapak mengajak saya lari pagi mengitari alun-alun kota Serang. Sorenya sepulang sekolah berlatih badminton dengan satu tangang. Kegiatan membaca buku, koran, dan majalah di sela-sela waktu luang. Menjelang tidur, saya bertualang dengan cerita-cerita Emak.

Tentu dengan melakukan 3 kegiatan itu, Allah menghadiahi saya banyak prestasi. Di olahraganya, saya ernah menyabet juara pertama Asian Para Games di Solo (1986) dan Osaka (1989). Lima emas cabang olahraga badminton saya gondol.

Dari kebiasaan membaca, saya sudah menulis sekirar 130 buku; mulai dari novel, antologi cerpen, puisi, parenting, travel writing, dan esai. Ratusan skenario TV saya tulis. Jadi mentor di pelatihan menulis saya jalani hingga sekarang.

Dari kebiasaan mendengarkan cerita Emak, saya jadi peka terhadap lingkungan. Dari rezeki yang saya peroleh, sebagian saya sedekahkan untuk membangun peradaban baru Rumah Dunia di Kota Serang, Banten.

Semuanya berkat Bapak-Emak, yang selalu memotivasi saya. Emak memang paling intens memompa semangat saya. Diingatkannya saya, bahwa tubuh boleh kurang, tapi otak tidak kurang dengan membaca.

***

Saya beruntung memiliki Emak. Di kota Purwakarta, Jawa Barat,  Emak lahir, tepatnya 21 Agustus 1936. Emak bercerita sewaktu zaman Belanda dan Jepang, Emak berumur sekitar 8-9 tahun, berjualan kue keliling kampung.

“Kakek Emak dari Caringin, Labuhan, Banten,” Emak berkisah tentang nenek-moyangnya.

Nama kakek Emak itu “Aji”. Ketika gunung Krakatau di selat Sunda meletus, santri-santri di Caringin mengungsi. Kakek Aji sampai di Subang dan membangun pesantren. Menikah dan mempunyai anak namanya “Acing”. Dialah ayah Emak, yang berarti kakek saya.

Sampai umur SMP, saya masih memiliki kakek Acing. Bahkan ketika tangan saya diamputasi pada 1974, kakek Acing datang menjenguk ke rumah sakit CBZ (sekarang RS Cipto) di Jakarta.

Emak pernah menyuruh saya melacak makam kakeknya. “Kakek Aji berkelahi dengan tentara Belanda karena rebutan kembang desa. Kakek Aji yang menang dan lahirlah Kakekmu, kakek Acing. Tapi kakek Aji buron, karena tentara Belanda itu mati.”

Emak bercerita lagi, kakek Aji tertangkap dan dibuang ke Aceh. Saya melacaknya ke Aceh, hingga ke Sabang. Saya menemukan jejaknya sebagai “anak rantai” di Sawah Lunto. Tapi saya menyerah, karena menurut para pejabat di sana, saya harus ke Leiden. Di Leiden ada daftar “anak Rantai” tapi berupa “nomor”, bukan “nama”. Hingga Emak wafat pada 19 Juli 2022, saya belum berhasil menemukan makam kakek Aji.

*** 

Bagi saya, Emak adalah motivator. Setiap saya hendak melakukan sesuatu, Emak selalu menyemangati.  “Allah berfirman dalam Al Qur’an tidak pernah menyebut ‘Wahai hambaku yang cacat dan sempurna. Tapi hambaku yang beriman dan bertaqwa.”

Saya ingat, ketika hendak melamar ke Kelompok Kompas Gramedia, Emak membobol celengan. “Ini  sebetulnya untuk biaya pernikahan kamu. Tapi, belikan tangan palsu. Jakarta itu keras. Kamu harus memakai tangan palsu, karena kesan pertama itu penting.”

Di tangan saya ada uang Rp. 1,3 juta. Saat itu , tahun 1988, sangat besar nilainya. Saya mengikuti keinginan Emak, karena ridho Allah ridho orang tua.

Saya belikan tangan palsu di Sunter, Jakarta. Saya kenakan tangan palsu agar kesan pertama kota Jakarta tidak diskriminatif. Betul, memang. Kesan pertama saat saya ke Gramedia di Palmerah Selatan, semuanya lancar. Apalagi ketika cerita bersambung saya yang berjudul “Balada Si Roy” tayang di majalah HAI pada 8 Maret 1988.

Sekarang saya menikmati hasil dari kerja keras. Kata Emak, “Nama ‘Gol A Gong’ itu artinya ‘segala kesuksesanmu itu berasal dari Allah SWT. Jadi kamu tidak boleh sombong.”

Ya, kesuksesan itu tidak berdiri sendiri. Tapi juga ada banyak orang ikut andil di dalamnya. Dan itulah yang kemudian selalu Emak ingatkan, “Lihat, tanganmu panjang lagi kan.”

Ya, tangan saya panjang lagi. Sekarang saja tangan kiri saya jadi panjang. Tangan kiri saya ada di Tias Tatanka – istri saya, dan keempat anak saya. Juga para relawan Rumah Dunia, dan kalian semua…

*) Gol A Gong pendiri Rumah Dunia dan Duta Baca Indonesia 2021-2025.

TOKOH KITA: TENTANG TOKOH KITA: Kita sering mengabaikan lingkungan di sekitar kita. Kadang tidak sadar, bahwa orang-orang yang sukses dan menginspirasi itu tetangga terdekat. Tokoh Kita mencoba menyuguhkan orang-orang yang sudah memberi kita inspirasi. Tokoh inspiratif kita bisa saja ayah-ibu dan saudara kita. Dia guru kita. Sahabat kita yang berprestasi di seni dan olahraga, siapa pernah tahu. Tukang bakso yang berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga jadi sarjana. Silakan kirim ke golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Tokoh Kita. Sertakan foto sebanyak mungkin untuk mendukung tulisan. Panjang tulisan 1000-1500 kata. Belum ada honornya, masih mencari sponsor.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==