Fahruroji melihat, ternyata potensi di kampung halamannya di Jalan Pabean, Link. Karangtengah, RT10/04, Kelurahan Pabean, Kecamatan Purwakarta, Cilegon, adalah soal pertanian. Bersama empat orang kawannya, Fahruroji kemudian membentuk kelompok tani yang diberi nama Sri Doran Farm (SDF). Secara legalitas SDF sudah berbentuk PT. Tapi Fahruroji dan kawan-kawan menggunakan merek dagang dengan nama Green Sulur.

Karena mayoritas sawah di Karangtengah hanya ditanami padi setahun sekali. Jadi pasca panen padi, hampir rata-rata tanah itu tidak diolah. Fahruroji melihat itu sebagai potensi yang bisa dikembangkan oleh anak-anak muda kampung.

“Pada tahun 2021 akhir, saya dan empat orang kawan kemudian mendirikan kelompok tani Sri Doran Farm ini,” kata Fahruroji, salah satu pendiri (co-founder) sekaligus manajer SDF bidang kerja sama dan pemasaran, saat dihubungi wartawan golagongkreatif.com, Senin (22/8/2022).

Ketika ditanya kenapa memilih bertani melon? Menurut Fahruroji, karena sebagian dari teman-temannya sudah punya pengalaman sejak 2012 menanam melon dengan berbagai macam jenis. Salah satunya melon jenis Golden Apollo. Tapi sekarang yang sedang dikembangkan adalah jenis Melon Golden Alisha. “Selain pengalaman di melon, juga potensi pasar lumayan bagus. Terutama untuk Model Golden Alisha ini,” jelas lulusan S1 Bahasa dan Sastra Inggris UIN Malang ini.

Nantinya, Fahruroji mengaku akan mengembangkan beberapa komoditas lain, seperti cabai, terong, dan lain sebagainya. Tapi untuk satu tahun ke depan ini SDF masih fokus pada melon. Hal ini dilakukan demi menjaga prinsip 3 K ini, yakni Kualitas, Kuantitas dan Kontinuitas. “Untuk menjaga 3 K itu, maka kita membuat siklus tanam. Sekarang kami sudah mengembangkan pertanian melon ini dengan siklus. Artinya kami sudah menanam berjenjang. Suapaya nanti panennya juga berlanjut. Jadi target kita setiap bulan itu bisa panen melon. Untuk menjaga permintaan pasar juga,” ujarnya.

Untuk permodalan, diakui Fahruroji sejak ada usaha kelompok tani ini bentuknya investasi. SDF mengundang investor untuk menanamkan modal di usaha ini. Tentu dengan perhitungan yang sudah dituangkan pada kontrak kerjasama. Termasuk juga hak dan kewajiban dari kedua belah pihak.

“Kami juga bekerjasama dengan perusahaan PLN dan BUMN, untuk mengembangkan teknologi pertanian. Alhamdulillah PLN memberikan bantuan modal untuk pengembangan teknologi pertanian. Di tahun pertama ini, PLN memberikan dana Rp.50 juta untuk program Electrifying Agriculture. Dana itu digunakan untuk membuat instalasi sistem irigasi otomatis menggunakan energi listrik dan Internet of Thing (IoT). Sederhananya, dengan sekali klik lewat smartphone air dapat dialirkan melalui selang irigasi untuk penyiraman dan pemupukan,” terangnya.

Lantas bagaimana dengan pasar melon?
Untuk pasar melon, diakui Fahruroji sebagian besar pembelinya datang langsung ke kebun dan memetik sendiri.

“Jadi kami memang memfasilitasi petik melon di kebun. Mereka petik, selfie, timbang, lalu bayar. Jadi cukup banyak yang tertarik. Saya kira animo masyarakat untuk datang ke kebun itu lumayan banyak. Selain itu juga kita stok/kirim ke beberapa pedagang di pasar Kranggot, Pasar Kelapa dan pedagang buah lainnya,” jelasnya.

Diakui Fahruroji, terakhir panen melon pada awal Agustus ini. Sekitar tanggal 10 kemarin. Dan rencananya bulan September akan kembali panen. “Insya Allah sekarang sudah mulai mengikuti siklus tanam. Setiap siklus tanam itu, dalam satu tahap kita menargetkan 1.000 pohon. Jadi misalkan bulan ini seribu pohon, bulan besok seribu pohon juga. Begitu seterusnya. Dari 1.000 pohon itu potensi kita dapatkan itu target minimum 3 ton melon. Dengan harga rata-rata melon per kilo itu Rp.15.000. Jadi sekitar dapat Rp.45 jutaan,” tuturnya.

Lalu kenapa seorang Fahruroji memilih menjadi petani melon? Ia mengaku, karena tidak ada pilihan. Tapi ada cita-cita bersama bagaimana kampung ini bisa hidup secara ekonomi. Ia ingin lahan-lahan yang “tidur’ itu bisa dibangunkan. Artinya sayang sekali ketika punya potensi alam, sawah yang lumayan luas kemudian tidak digunakan secara produktif. Maka akan mubazir.

“Menjadi petani ya, sesuai dengan kondisi alam yang ada di sekitar sini. Yang kedua, tentu ketika ada usaha-usaha yang produktif seperti pertanian seperti ini, teman-teman yang tidak punya penghasilan atau yang belum memiliki kesempatan untuk bekerja di luar, bisa menjadi wahana bagi teman-teman terutama anak-anak muda di kampung sini untuk produktif dan menghasilkan.

Bisa jadi usaha tani ini menjadi pendapatan utama bagi teman-teman di kampung. Inilah usaha yang sedang kami rintis bersama dengan kawan-kawan di kampung. Semoga memiliki dampak yang lebih luas lagi. Ketika aktifitas ekonomi di kampung hidup, saya kira aspek-aspek yang lain juga bisa ikut hidup. Kalau ditanya apa cita-cita saya, adalah bagaimana saya bisa bermanfaat bagi orang lain. Apapun usahanya, apapun kegiatannya dan aktifitasnya sedapat mungkin itu bisa bermanfaat bagi orang lain,” pungkasnya. *



