“Untuk apa kalau itu nanti membuat Mirna kangen sama kakak Beni.
“Pokoknya selulus SMA, dik Mirna boleh kuliah di kota kakak. Nanti soal biaya, kakak carikan beasiswa.” Ayahku memiliki yayasan pendidikan. Ayahku anggota dewan.
Aku, Ramadhan, Ocan, Arip, Noval, Agung, dan Jodi, sudah berjanji selama sebulan KKN di pulau kecil terperncil ini tidak akan ada cinta lokasi. Jika ada yang kepergok berduaan, membayar denda atau “kawin hansip”.

Di pulau ini banyak kejadian seperti itu. Lelaki-lelaki yang pulang melaut melakukan jalan pintas – kadang mengarah ke pemaksaan supaya bisa segera dinikahkan.
Kapal kayu yang akan membawa kami ke kota kabupaten sudah siap mengangkat jangkar. Teman-temanku sudah masuk ke kapal. Tinggal Ocan yang tampak gelisah.
Tiba-tiba aku melihat orang-orang datang bergerombol sambil mengacung-acungkan parang. Mereka menyerbu ke dermaga. Pak Kepala desa dan dua polisi berusaha menghalang-halangi mereka.
“Kakak Ocan bawa lari si Novi!” teriak Kepala Desa.
“Novi ada di kapal, Can?” tanyaku
Ocan mengangguk. “Nanti aku jelasin!” Ocan semakin tegang.

“Kamu pacaran sama Novi?” tanyaku kesal.
“Nggak. Aku sayang sama Novi seperti sayang sama adikku yang udah meninggal!” Ocan membela diri.
Tapi semuanya berubah. Orang-orang berhenti. Parang-parang diturunkan. Orang-orang menatap Pak Kepala Desa yang wajahnya seperti orang bego. Beberapa polisi mengambili para-parang itu.
Kami semua melihat ke kapal.
Ikal, anak kepala desa yang wajahnya mirip pemain sinetron itu menggandeng Novi. Mereka tampak manja dan merasa tak berdosa menuruni jembatan kayu yang menghubungkan kapal dan dermaga.
Gol A Gong
*) Foto-foto dermaga di kota lama Kendari.



