Sudah 15 menit menunggu di halte, belum ada bus antar kota yang melintas. Untuk mengisi waktu, aku update foto-foto terbaru di IG, FB, dan tentu Tik Tok. Follower di IG-ku melonjak naik, hampir seribu. Rupanya netizen senang dengan foto-foto yang kuunggah. Selama seminggu, aku singgah di 3 kota. Pangandaran dengan tebing Grand Canyon, legenda penjara Nusakambangan Cilacap , dan Goa Jati Jajar yang penuh mistik di Kebumen.

“Permisi, Mas,” tiba-tiba terdengar suara menyapa.
“Oh iya, Bu,” aku bangkit menyalami. Kata Emak, kita harus menghormati orang tua.
“Bus ke Banjar, dari sini ada toh, Mas?”
“Iya, Bu. Tunggu saja.”
“Masnya mau ke mana?”
“Ke Wonosobo, Bu. Terus ke Dieng. Mau lihat sunrise di Sikunir.”
“Oh,mau lihat sunrise, toh.”
“Iya, Bu.”
“Ke Banjar, berapa ya ongkosnya?” si ibu mengeluarkan 3 lembar uang kertas 2 ribuan. “Cukup nggak, ya?”
Aku mulai tidak enak perasaan. “Ke Banjar, mau bertemu siapa, Bu?”
“Anakku, Mas. Anak nomor nomo dua. Dia itu kerja di kantor bupati.”
“Ibu nggak bawa HP?”
“Itu dia, Mas. Tasku ketinggalan di toilet terminal. Pas kembali lagi ke sana, tasnya sudah ndak ada.”
Aku makin tidak enak hati. “Ibu ingat nomor HP anaknya.”
“Waduh, di umur seperti saya ini, kepala lima, udah mulai pikun, Mas.”

Aku teliti pakaiannya. Lumayan. Tidak menunjukkan dia orang susah. Riasan wajahnya sederhana tapi pas. Aku yakin sewaktu mudanya pasti cantik. Tapi aku harus hati-hati, penipu zaman sekarang canggih-canggih.
“Mas pasti curiga sama saya. Ndak apa.”
“Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud begitu.”
“Kita kan baru ketemu.”
“Barangkali saya bisa membantu Ibu.”
“Iya, Mas. Jika berkenan, pinjami saya seratus ribu saja. Nanti saya catat nomor HP Mas. Sesampainya di rumah anak saya, langsung saya transfer.”
“Baik, Bu.” Aku rogoh saku belakang. Aku ambil dua lembar lima puluh ribuan.
“Terima kasih, Mas. Semoga Allah memudahkan perjalanannya, ya.”
“Sama-sama, Bu.”
Terdengar suara motor dari arah kanan kami. Motor itu berhenti. Keduanya memakai helm. Orang yang dibonceng melompat turun sambil menebas-nebaskan goloknya.
“ Mana duit! Duit! Cepetan!” goloknya disabetkan ke kepalaku. Untung masih ada jarak semeter dari kepalaku.

Si Ibu melemparkan uang pemberianku. Ketika si Helm dengan golok di tangan itu berjongkok mengambil uang, kesempatan itu tidak aku sia-siakan. Aku melompat menubruk begal sialan itu.
Aku tidak menyangka jika si begal lebih cepat gerakannya dariku. Golok tajam itu berkelebat menebas kepalaku. Darah muncrat ke wajah si Ibu yang menjerit. Aku terkapar dengan kepala hampir terputus. Aku masih merasakan si ibu berteriak-teriak minta tolong. Si begal itu berlari ke motor dan kabur.
“Cut! Exelent! Bagus!” teriak sutradara sambil bertepuk tangan. “Kita istirahat dulu. “Nati malam kita lanjutkan scene di rumah sakit!”
*) Malang 1 Oktober 2022



