Room boy menggeleng. Dia menatapku; dia meminta izin untuk membuka pintu kamar. Berarti ini yang ketiga kali! Aku mulai terganggu.

Sepeninggal room boy, aku duduk di bibir kasur. Aku perhatikan isi kamar. Biasa saja, tidak ada yang aneh. Tempat tidur, meja, lukisan pemandangan di dinding, lampu-lampu, lemari, dan telepon.
Lantas, ada apa dengan kamar nomor 317? Aku mencoba mengingat-ingat, apakah dalam perjalanan hidupku ada hal terkait dengan nomor kamar 317?
Kriiiiing…! Aku bangkit dan mengangkat gagang telepon.
“Kamar 317?”
“Ya?”

“Afghan?” Terdengar suara perempuan.
“Betul. Siapa, ya?” Aku tidak penasaran, tapi merasa cemas ketika mendengar suara perempuan.
“Saya akan datang ke kamarmu.”
Klik.
Belum juga aku menanyakan untuk urusan apa, perempuan yang berbicara denganku di telepon, langsung menutup percakapan.
Aku langsung memijit angka operator hotel. “Tolong, Mas. Tadi ada yang menelepon ke kamar. Bisa dilacak, apakah dari kamar di hotel ini atau dari luar?”

“Sebentar, ya, Pak.”
Aku menunggu beberapa saat.
“Hallo, Pak…”
“Iya.”
“Dari telepon luar, Pak.”
“Oh! CCTV tetap jalan kan?”
“Oh, ya. Itu sudah SOP, Pak.”

“Bisakah hotel ini mengirimkan seorang security dan berjaga-jaga di depan pintu kamar 317? Nanti tagihannya ke perusahaan.”
“Baik, Pak. Akan segera kami kirimkan.”
“Sekarang juga.”
“Baik, Pak. Sekarang.”
“Terima kasih.”
Begitu gagang telepon aku letakkan di tempatnya, bel kamar berbunyi. Ah! Tidak mungkin pihak hotel secepat itu mengirimkan tenaga keamanannya! Bel berbunyi lagi. Aku bergegas ke pintu kamar dan mengintip ke lubang pintu. Seorang perempuan muda.

Bel berbunyi lagi.
Keberanianku muncul. Aku buka pintu. Baru saja terbuka sedikit, perempuan muda yang layak jadi kakak Amanda di rumah, langsung mendorong pintu dan masuk.
Aku melongok ke koridor. Tidak ada siapa-siapa. Aku tutup pintu. Aku perhatikan perempuan belasan tahun, yang berdandan seperti penyanyi rock di panggung.
“Siapa kamu?”
Perempuan itu membuka lemari es dan mengambil minuman kaleng. “Haus!” serunya santai.
“Oh, silakan, silakan,” aku duduk di kasur. Ketika melihat dia, aku teringat Amanda, putriku yang kini sedang mendaftar ke SMA bersama kakeknya.
Gadis remaja yang membuatku dag-dig-dug, menuju kursi di dekat pintu balkon. Dibukanya minuman kaleng. Dia duduk. Kedua kakinya diangkat ke meja; dia bergaya seperti cowgirl di film-film Amerika.
“Maaf, adek ini siapa, ya?”
Bel kamar berbunyi.
“Buka! Buka! Nanti semuanya akan terjawab, Pak!”

Aku memandang ke pintu yang aku tutup, tapi aku ganjal dengan palangnya. Aku buka. Pelan-pelan pintu terbuka. Jantungku seperti terlempar ke tungku ketika perempuan yang aku sia-siakan di kelas 3 SMA, muncul masih seperti dulu: cantik. Tapi kali ini penampilannya seperti seorang wanita karir.
“Wiwin?”
“Aku salut juga, kamu bertahan seorang diri mengurus Amanda. Aku ikut berduka cita atas kematian Aisyah.”
Aku menatapnya.
“Aku mengikuti perjalanan hidupmu di medsos. ”
Ada perasaan bersalah muncul di hatiku.
“Kamu pasti kaget, kenapa nomor 317?”
Bibirku bergetar. Pikiranku terbang ke masa study tour sekolah 18 belas tahun lalu.
“Denpasar. Kamar nomor 317. Dia anakmu, Afghan!”
*) Lingga, Kepri, 27 Juli 2023

REDAKSI: Mulai Mei 2024 ada kategori baru, yaitu FIKSI MINI. Kita tahu, fiksi mini sedang trend. Fiksi Mini tayang setiap hari Kamis. Silakan mengirimkan fiksi mini karyamu. Satu lokasi, satu waktu, ada plot twist saat endingnya. Antara 250-500 kata. Silakan kirim fiksi minimu ke golagongkreatif@gmail.com, subjek fiksimini. Sertakan bionarasimu 5 kalimat, foto dirimu, dan ilustrasi yang mendukung. Ada uang ganti pulsa alakadarnya Rp. 100.000,- dari SIP Publishing. Selamat menulis.



