“Bu Fatimah mah sabar orangnya,” terdengar suara di belakangku.
“Sudah, Bu, jangan ngomongin yang udah mati,” kali ini suara lelaki.
‘”Ngomongin yang baik-baik mah nggak apa-apa kali, Bang.”
“Jangan keras-keras, Bu.”
“Saya mah tahu pasti. Bu Fatimah suka nyumbang ke yatim piatu, para janda tua, ngasih biaya buat sekolah anak-anak itu buat nutupin…”
“Bu!” suara si lelaki memotong.

Ah! Ingin sekali aku menengok dan meminta si perempuan yang duduk di kursi baris belakangku untuk melanjutkan kalimatnya. Tapi perhatianku terbagi. Aku melihat dari tempat duduk, sebuah mobil mewah berhenti. Di belakangnya ada beberapa mobil berhenti juga. Jalanan kampung jadi macet. Seorang lelaki gendut muncul dari pintu mobil yang terbuka sendiri. Dia memakai seragam partai yang tidak aku suka, ke sepuluh jari tangannya dihiasi batu akik, pergelangan tangannya dilingkari jam tangan berlapis emas. Beberapa lelaki mengawalnya. Beberapa orang yang duduk bangkit, mendekati, dan mencium tangannya seolah mendapatkan berkah.
“Istrinya sering ditinggal-tinggal. Bukannya bersyukur dapat istri cantik, anak pengusaha! Rasain! Sekarang ditinggal mati!”
“Maklum, ketua partai, Bu,” bisik si lelaki.
“Iya, tahu. Dia bisa jadi ketua partai kan karena ngawinin Bu Fatimah! Karena mertuanya! Dulu mah waktu jadi preman di pelabuhan, kurus, bau, Bang! Sama kayak Abang sekarang!”
“Sssst, Bu!”
Aku angkat HP. Aku arahkan ke belakang. Aku setting kamera depan. Aku pura-pura selfie. Wow! Si perempuan rambutnya dicat warna biru dan si lelaki kepalanya botak. Pada saat yang bersamaan, muncul mobil pick up membawa karangan bunga yang besar. Kedua mataku bergeser ke dinding tembok di sebelah selatan. Saya hitung sudah delapan karangan bunga! Ini karangan bunga yang kesembilan. Tinggal satu karangan bunga lagi, genap sepuluh!
“Sana, cium tangan dia, Bang! Kenalin, kalau Abang juga sekarang preman pelabuhan, sama kayak dia dulu!”
“Nggak mau! Abang kan premannya preman baik hati. Nggak pernah meres. Justru Abang merangin preman yang suka meres!”
“Sama aja, preman-preman juga!”
Kedua telingaku sudah gatal mendengaran percakapan mereka. Orang-orang semakin ribut dan suaranya berdengung seperti serangga hutan di malam hari. Si lelaki ketua partai itu sedang bersimpuh di depan jenazah isterinya. Tiba-tiba dia menoleh, mengikuti gerakan dua orang dari florist yang sedang meletakkan karangan bunga, berjejer dengan 9 karangan bunga lainnya.

Si lelaki ketua partai berdiri dan berjalan menuju sembilan karangan bunga. Dia bertolak pinggang. Kemudian menyerbu dengan tendangan dan cabikan. Sembilan karangan bunga itu hancur.
Datang lagi mobil pick up dengan karangan bunga yang lain. Si mantan preman pelabuhan itu berlari menghampiri mobil pick up. Para pengawalnya tidak berhasil mencegah. Tanpa banyak bicara, karangan bunga itu dia hancurkan.
“Cari, cari orang brengsek itu! Dadang, namanya! Kalau perlu bunuh! Buang mayatnya di sungai! Atau kasihkan ke kandang macan!” suara si lelaki menggelegar seperti auman raja hutan.
Rumah duka bergetar. Orang-orang semakin mendengung dan berubah jadi pasar malam.
Aku bangkit meninggalkan rumah duka. Mereka tidak akan pernah berhasil menemukan orang brengsek bernama Dadang. Tadinya aku ingin bersimpuh di kedua kaki perempuan yang bernama Fatimah itu. Melihat gelagat tidak baik, aku memilih pergi. Tapi aku sudah menunaikan wasiat ayahku, yaitu mengirimkan sepuluh karangan bunga jika Ibu meninggal. Aku tersenyum sendiri. Romantis juga cara ayahku menyambut kedatangan Ibu di alam kubur.
*) Amaris 28 Juli 2022


