Fiksi Mini: Karangan Bunga

Tiga mobil mewah berhenti. Jalanan kampung jadi macet. Seorang lelaki gendut berseragam partai keluar dari mobil. Sepuluh jari tangannya dihiasi batu akik, pergelangan tangannya dilingkari jam tangan emas. Beberapa lelaki mengawalnya. Orang-orang mendekati dan mencium tangannya.

“Dia bisa jadi ketua partai karena ngawinin Bu Fatimah! Karena mertuanya! Dulu mah waktu jadi preman di pelabuhan, kurus, bau! Sama kayak Abang sekarang!”

Muncul mobil pick up membawa karangan bunga yang kesembilan.

Si lelaki ketua partai mendekati. Dia menatap satu persatu karang bunga itu. Dia bertolak pinggang. Kemudian berteriak menyerbu. Sembilan karangan bunga itu dia hancurkan.

Datang lagi mobil pick up dengan karangan bunga kesepuluh. Dia semakin marah berlari menghampiri mobil pick up. Para pengawalnya tidak berhasil mencegah. Tanpa banyak bicara, karangan bunga kesepuluh itu dia hancurkan.

“Cari si Dadang! Bunuh! Buang mayatnya di sungai!” dia mengaum seperti singa.

Aku meninggalkan rumah duka. Mereka tidak akan pernah menemukan Dadang – dia ayahku. Perempuan bernama Bu Fatimah itu ibuku.

Aku lega sudah menunaikan wasiat ayahku, yaitu mengirimkan sepuluh karangan bunga jika Ibu meninggal. Romantis juga cara ayahku menyambut kedatangan Ibu. Semoga mereka bahagia di surga.

Gol A Gong

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==