“Aku tidak mau menggugurkan kandungan ini! Lepaskan aku!” teriaknya lagi.
“Kamu pikir aku mau menjadi ayah dari anak ini? Aku tidak sudi!”
Laki-laki tersebut berusaha menariknya untuk berjalan menuju lift yang ada di tengah lorong ruang tunggu. Dia memaki wanita itu dengan menyakitkan. Jujur saja aku merasa iba.
“Kamu membohongiku! Kamu bilang akan bertanggung jawab. Kenapa sekarang kamu tidak sudi?” tanya wanita tersebut penuh emosi.
Aku masih memperhatikan mereka. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di depanku.
“Lepaskan aku! Dasar laki-laki pecundang!” ucap wanita itu sambil merasa kesakitan.
Laki-laki itu tampak tersulut emosinya. Dia pun mengangkat tangannya dan bersiap melayangkan tamparan pada wanita tersebut.
“Hentikan!” aku berteriak.
Mereka berdua menoleh ke arahku.
Aku berusaha melepaskan tangan laki-laki itu dari pergelangan tangan wanita tersebut. Saat genggaman itu terlepas, aku melihat pergelangan tangannya tampak kemerahan.
“Apa yang anda lakukan? Kenapa anda begitu jahat pada wanita ini?” tanyaku dengan emosi.
“Mbak… maaf, tapi kami….”
Laki-laki itu tampaknya tidak ingin aku ikut campur.

“Saya melihat ini semua ya. Anda ini melakukan kekerasan pada wanita yang sedang hamil. Saya bisa melaporkan anda ke polisi,” ucapku, masih penuh dengan emosi.
“Mbak, saya tidak apa-apa. Kami ini….” wanita itu mencoba menengahi.
“Anda ini sedang disiksa, Mbak. Kenapa anda bilang tidak apa-apa?” tanyaku yang sangat merasa kesal. Aku juga heran kenapa wanita tersebut tidak mau ku tolong.
“Saya akan panggil polisi,” ucapku kemudian mengambil ponsel di dalam tas.
“Tunggu, Mbak! Jangan panggil polisi!” kata laki-laki itu berusaha mencegahku.
“Kenapa? Anda takut? Kalau begitu jangan berbuat semena-mena,” kataku pada laki-laki itu.
“Bukan begitu, Mbak. Tapi kami ini sedang syuting,” ucap laki-laki itu.
“Apa?” tanyaku sangat terkejut.
“Iya, ini kami sedang latihan karena sebentar lagi kami akan take gambar untuk syuting sinetron,” jelas wanita itu.
“Jadi… ini….” aku merasa bingung sekarang.
Wanita itu mengambil sesuatu di balik blouse yang dia kenakan. Ternyata itu adalah bantal. Wanita tersebut tidak benar-benar hamil.
“Ruang syuting kami ada di ujung lorong ruang tunggu ini, Mbak. Ini kami hanya latihan saja sembari menunggu praktek dokter tutup agar tidak mengganggu pasien lainnya. Karena tadi sudah sepi, kami memutuskan untuk latihan terlebih dahulu,” jelas laki-laki itu.
Aku mulai manggut-manggut karena mulai merasa malu. Ternyata mereka berdua sedang bersiap-siap untuk syuting. Aku ternyata tertipu. Wajahku kini memerah. Saat itu juga, perawat memanggil namaku. Aku pun berpamitan dan meminta maaf karena sudah mengganggu latihan mereka.

TENTANG PENULIS: Rahmasari, seorang penulis yang menyukai petualangan penuh makna lewat kata-kata. Ia mengajak pembaca untuk menjelajahi imajinasi dan dunia yang tak terbatas melalui buku-buku
yang ia terbitkan, novel online, hingga berbagai buku antologi. Jika sedang senggang, ia suka
bermain dengan kucing kesayangan.

FIKSI MINI hadir dua mingguan mulai Mei 2024. Terbit hari Kamis. Kita tahu, fiksi mini sedang trend. Silakan mengirimkan fiksi mini karyamu. Satu lokasi, satu waktu, ada plot twist saat endingnya. Antara 250-500 kata. Silakan kirim fiksi minimu ke golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com, subjek: fiksimini. Sertakan bionarasimu 5 kalimat, foto dirimu, dan ilustrasi yang mendukung. Ada uang ganti pulsa alakadarnya Rp. 100.000,- dari SIP Publishing. Selamat menulis.



