Dengan tangan gemetar, Nadia meraih ponselnya, segera menghubungi Miftah, teman akrab sekaligus tetangga dekat rumahnya, yang beberapa hari ini sudah tidak menghubunginya lagi.
Suara Nadia bergetar hebat, seiring suara dentuman keras di pintu kamarnya. “Miftah, tolong aku! Ada yang mencoba masuk ke rumahku! Aku sendirian di sini, orangtuaku sedang keluar kota,” pintanya dengan putus asa.
“N-Nadia, apa benar ini kamu?” Suara Miftah bergetar.
Sebelum Nadia bisa menjawab, dentuman keras kembali menghantam pintu kamarnya, Nadia terkejut, ponsel jatuh dari tangannya. Panggilan terputus. Nadia ketakutan, air mata mengalir di pipinya, ia berdoa dalam diam memohon perlindungan. Tubuh mungilnya terus terdorong, Nadia memegang gagang pintu dengan sekuat tenaga, lututnya gemetar. Pintu terus bergetar keras.

Ketakutan melanda Nadia, namun dia tidak boleh menyerah. Dengan sisa tenaganya, Nadia berteriak keras. Dia menjatuhkan rak dan melemparkan barang-barang dengan panik, berharap bahwa aksinya akan memanggil para tetangga untuk segera membantunya.
Saat dia hampir putus asa, suara yang dikenalnya merobek kekacauan itu. “Nadia, ini Mama dan Papa! Buka pintunya, Nak. Ini kami.”
Hati Nadia melonjak dengan campuran emosi—lega, bingung, dan ketakutan yang masih tersisa. Dia perlahan membuka pintu, disambut oleh wajah-wajah yang berkilat air mata dari orangtuanya, mereka berhambur masuk, diikuti dua pria berseragam polisi.
“Maaf kami meninggalkanmu sendirian,” suara papa penuh penyesalan.
Nadia mendekati keduanya, terharu dan lega secara bersamaan. Tiba-tiba, suasana mulai terasa aneh. Nadia tidak dapat merasakan pelukan hangat ibu dan ayahnya, yang Nadia rasakan hanya rasa sakit dan hawa dingin disekujur tubuhnya. Kepalanya tiba-tiba mengeluarkan banyak darah.
“Maafkan papa yang tidak bisa melindungimu, Nak. Papa berjanji akan menangkap pelaku pembunuhan itu secepatnya agar kamu bisa beristirahat dengan tenang di sana.”

TENTANG PENULIS: Annisa Adelina, sedikit kaku tapi bukan kanebo kering. Suka menulis novel, puisi dan artikel. Temui wattpad dan innovelnya hanya di @hannahqibtiya23 .

FIKSI MINI hadir dua mingguan mulai Mei 2024. Terbit hari Kamis. Kita tahu, fiksi mini sedang trend. Silakan mengirimkan fiksi mini karyamu. Satu lokasi, satu waktu, ada plot twist saat endingnya. Antara 250-500 kata. Silakan kirim fiksi minimu ke golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com, subjek: fiksimini. Sertakan bionarasimu 5 kalimat, foto dirimu, dan ilustrasi yang mendukung. Ada uang ganti pulsa alakadarnya Rp. 100.000,- dari SIP Publishing. Selamat menulis.



