Terdengar lagi suara ranting dan daun kering terinjak. Dia tidak pergi, tetapi mendekat. Lelaki itu duduk di sampingku. Pada hari-hari lalu, kami terbiasa duduk berdua di sini, menikmati senja di bangku kayu ini. Namun, kali ini dalam suasana hati yang berbeda.
Aku bertahan untuk tak berpaling ke arahnya. Tak sanggup rasanya menatap mata biru yang selama ini selalu menatapku penuh cinta. Aku sungguh sakit mengetahui bahwa hal itu hanyalah sebuah kebohongan.

Kunaikkan ritsleting jaket hingga ke ujung dagu saat angin berhembus. Karena terbiasa hidup dalam dua musim, udara Giethorn acapkali membuatku kedinginan. Namun, tak apa. Demi dia, aku sungguh rela. Cintanya telah cukup menghangatkanku. Hanya saja semua tak lagi sama, tepatnya sejak dia mengurai segala yang tersembunyi dariku selama ini.
“Maafkan aku,” pintanya getas.
Seolah ada sembilu mengiris hatiku, perih. Bagaimana pun aku masih mencintainya. Tak akan mudah bagiku melupakan segala yang telah dilalui di kota kecil ini. Sama tak mudahnya bagiku melupakan perbincangan kami tadi pagi.

“Bantu aku untuk sembuh,” ucapnya sambil meremas jemariku.
Aku tertegun dan menatap matanya lekat-lekat, seperti saat dia mengakui ada jiwa wanita terjebak dalam tubuh kekarnya.
***

TENTANG PENULIS: Diana Dia, penulis novel Musim Dingin di Izmir, Kumcer Patah Hati Paling Sempurna, dan beberapa antologi. Facebook: Diana Dia. Instagram: @aksaradianadia.

FIKSI MINI hadir dua mingguan mulai Mei 2024, gantian dengan RAK BUKU. Terbit hari Rabu. Kita tahu, fiksi mini sedang trend. Silakan mengirimkan fiksi mini karyamu. Satu lokasi, satu waktu, ada plot twist saat endingnya. Antara 250-500 kata. Silakan kirim fiksi minimu ke golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com, subjek: fiksimini. Sertakan bionarasimu 5 kalimat, foto dirimu, dan ilustrasi yang mendukung. Ada uang ganti pulsa alakadarnya Rp. 100.000,- dari SIP Publishing. Selamat menulis.



