Pak Setyadi menjawab, film dokumentar di Indonesia dalam proses pembuatannya disajikan dengan serius, sehingga penonton merasa jenuh untuk menyelesaikan film. Alur cerita dan perbincangan di dalamnya dibatasi karena bersikap formal, sehingga tidak muncul drama/komedi yang menghangatkan suasana. Maka hal itu tentunya menjadi PR besar untuk kita semua, bagaimana caranya mengemas film dokumentar yang baik, bijaksana namun tetap menghibur masyarakat.

Film dokumenter pun jarang sekali dipromosikan atau ditayangkan pada bioskop, sebab memiliki pasar yang lebih kecil dibandingkan dengan film fiksi. Sebagian besar bioskop cenderung lebih memilih untuk menayangkan film yang dianggap memiliki potensi untuk mendatangkan pendapatan yang lebih besar, sedangkan film dokumenter tidak selalu memiliki akses yang mudah ke jaringan bioskop, dan promosi yang kurang luas dapat mempengaruhi kemungkinan penayangannya.



