Setelah salat, kami berjalan kaki ke gedung perpustaaan. Malikha – staf Dinas Perpustakaan dan Diana Key dari Komunitas Bilik Menulis menyambut kami dengan gembira. Kami dijamu ngopi di cafe. Di halaman belakang

Kami mendiskusikan agenda 2 hari ke depan. Untuk besok dpusatkan di auditorium perpustakaan. Bahkan kami diinapkan di wisma bupati, pendopo Arya Wiraraja, hanya 50 meter saja dari gedung perpustakaan, persisi di sisi selatan alun-alun kota. Kalau kantor perpustakaannya di sisi barat. Sangat strategis.

Saya, Daniel, dan Rudi memanfaatkan waktu semalam untuk tidur. Tidak ada wifi, jadi kesempatan untuk tidur. Betul-betul nyenyak. Makan malam saja, kami memilih diantar saja. Kami makan di wisma.

Setelah subuhan, saya jalan-jalan mengitari alun-alu kota lumajang. Wah, bersih, asri, nyaman. Jika ke Lumajang, mampir ke alun-alunnya. Terasa sekali semangat iqra dan Qallam.

Ada Giant Letter. Ada tugu pena. Ada taman baca. Alun-alun yang ditumbuhi pohon rindang. Masyarakat betah beraktivitas di sini. Tak perlu dipagar. Patut dicontoh.

Saya cukup terpesona dengan alun-alun kota Lumajang. Saya sempat masuk ke areal dalamnya. Ya, terasa aroma literasinya. Enak untuk healing sambil baca buku. Pohon-pohonnya rimbun dengan dedaunan.




