Kelas Puisi diawali dengan pembacaan puisi oleh seorang guru. Hampir sama di mana-mana, puisi mereka masih di fase pertama, mencurahkan isi hati, belum bermain di simbol. Tidak apa. Saya membahasnya, “Tidak ada puisi yang jelek, karena setiap penyair memiliki pengalaman puitik yang berbeda.”

Saya menyebutnya puisi personal, penyair fase ini mencari diksi-diksi puitis kemudian menyusunnya menjadi baris-baris puisi dalam 1 bait. Rata-rata tipografinya memang puisi. Tidak apa-apa. Tetap itu pengalaman puitik. Hanya saja pencapaian estetiknya perlu ditingkatkan lagi.
Kelas puisi ini seru. Saya membacakan puisi fase pertama dan puisi yang sudah direvisinya. Ini puisi karya anak SMP di pulau Adonara, Flores Timur. Saya memberi pelatihan ke anak-anak SMP di sana. Ini puisinya:

IBU
Ibu, kau wanita perkasa
Kau adalah istri ayahku
Setiap aku sakit kau merawatku
Penuh kasih sayang
Ibu, kini kau telah tiada
Aku rindu kepadamu
Kemudian saya menyuruh si anak menyimbolkan ibunya dengan sebuah benda dan menyembunyikan maksud dari setiap barisnya dengan bahasa symbol. Inilah puisinya:

PAYUNG
Setiap hujan
aku memakai payung
Tadinya payungku ada dua
Kini setiap Minggu
aku pergi ke taman
menabur bunga
Kini payungku tinggal satu

Nah, begitulah pelajarn menulis puii dari saya. Para guru saya persilakan memilih cara menulisnya, sesuai dengan selera. Saya hanya mengingatkan kaidah puisi sesusungguhnya adalah makna berada di balik kata yang kita tulis, biarkan pembaca mengorek-ngoreknya sendiri.
Gol A Gong




