Ilham Aulia Jafra dan Fahmi Abdul Aziz Harumkan Pandeglang Banten dengan Film Dokumenter “Lima Pare” Eagle Award Competition 2022

Film dokumenter “Lima Pare” yang digarap oleh sineas muda Pandeglang tersebut berlokasi syuting di Baduy Lebak Banten.

Alasan apa sehingga memilih adat suku Baduy menjadi topik dalam film dokumenter lima pare?

Jafra menceritakan bahwa alasan memilih suku baduy karena secara sosiologis dan teologis mereka masih memegang teguh ajaran adat sunda baik agama, budaya dan hukum adat. “Jadi oleh sebab itulah saya memilih suku baduy menjadi topik dalam film yang saya garap” ucapnya.

Dari sekian banyak peristiwa menarik di Baduy, salah satu topik yang menarik untuk dikonsumsi publik adalah ketika mereka menanam padi. “Padi merupakan solusi Masyarakat Baduy untuk mengatasi krisis pangan. Bahkan padi di Baduy bisa cukup untuk memenuhi pangan enam generasi masyarakat adat.

Apa makna judul “Lima Pare” yang diangkat menjadi judul film?

Film Lima Pare ini menceritakan peristiwa tentang Ngaseuk yang merupakan ritus tahunan di Baduy. Karena Masyarakat Baduy ini per masing-masing keluarganya diwajibkan untuk bertani. Ngaseuk sendiri adalah istilah dalam bahasa Sunda yang digunakan untuk menyebut proses menanam padi huma yang memang menggunakan aseuk sebagai alat utamanya.

“Jadi, makna lima pare ini adalah diambil dari lima jenis pare (baca: padi) yang ditanam oleh masyarakat baduy. Ada tiga jenis pare yang sakral dan wajib ditanam oleh masyarakat baduy. Seperti pare koneng, pare siang dan pare ketan langgar sari. Dua varietas lainnya berjenis umum,” jelas Jafra.

Apakah Film Dokumenter Lima Pare ini memang dipersiapkan untuk kompetisi Eagle Award?

Ilham Aulia Jafra dan Fahmi Abdul Aziz sebelumnya tidak pernah terpikirkan untuk mendaftarkan film dokumenternya untuk mengikuti kompetisi bergengsi tersebut.

“Jadi, lima pare ini tidak pernah saya niatkan untuk mengikuti lomba apapun. Karena kebetulan saja ada kompetisi Eagle Award 2022 lalu saya ajukan proposalnya. Bersyukurnya proposal film lima pare ini lolos seleksi mengalahkan ratusan proposal yang masuk, hingga diseleksi lima nominasi terbaik. Alhamdulillah Film Lima Pare ini juara ketiga. Ini merupakan pencapaian terbaik bagi saya dan Banten, di tahun 2022 ” tutur Jafra.

Jafra menambahkan, bahwa “Tujuan dari Film Lima Pare ini untuk menginformasikan kepada masyarakat nusantara dan internasional tentang pengetahuan khas asli sunda mengenai sistem bercocok tanam.”

Setelah menjuarai kompetisi film dokumenter nasional, apakah ada apresiasi dari Pemprov Banten?

Ilham Aulia Jafra dan Fahmi Abdul Aziz sama sekali belum pernah mendapatkan ucapan “Selamat!” sekalipun dirinya tidak mengharapkan diucapkan “Selamat!” dari Pemprov atau siapapun.

“Dengan minimnya apresiasi dari Pemprov Banten, akan menyebabkan sineas film maker muda Banten malas berkarya di daerahnya sendiri. Dan khawatir industri perfilman kita akan jauh tertinggal dari kota-kota lain. Hal yang membuat saya cemburu adalah saat awarding di Jakarta. Saat itu, ada peserta dari Kalimantan Utara yang dihadiri oleh Gubernurnya padahal hanya masuk kesepuluh besar. Cuma saya dari Banten yang tidak dihadiri oleh siapa pun! Kritik saya untuk pemprov, apresiasi lah karya sineasnya karena karya itu akan abadi selamanya tidak seperti pembuatnya” jelas Jafra.

Apa harapan untuk Industri Perfilman di Banten?

Jafra berharap, “Banten harus mempunyai lembaga perfilman sendiri dan difasilitasi oleh Pemprov agar sineas muda lebih semangat lagi berkarya dan berbuat untuk daerah Banten itu sendiri. Kalau di Banten tidak bisa menghargai karya, lebih baik saya berkarya di luar kota!” pungkas Jafra.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==