Hal lain yang menrik adalah, ke-20 finalis Duta Baca Kampus UTU itu sangat bersemangat memperbaikin budaya ponsel ke budaya membaca di UTU. Mereka ingin perpustakaan kampus jadi ramai dikunjungi.

“Biasanya mahasiswa rajin datang ke kampus kalau ada tugas dari dosen,” kata seorang peserta. “Sedangkan dalam aktivitas sehari-hari lebih asik dengan ponsel.”

Ke-22 peserta diberi waktu memaparkan programnya selama 10 menit. Keempat juri – Gol A Gong, Nazaruddin Musa, Sri Hardianty, dan Rahmiyul sepakat bahwa mereka bersaing ketat untuk mendapatkan 6 posisi terbaik. Program dan cara penyampaian mereka baik.

“Saya merasa kampus ini masih memiliki harapan untuk memperbaiki budaya membacanya. Semoga yang nanti tidak jadi enam terbaik tetap menjalankan program-program literasinya,” kata Nazaruddin, Ketua Ikatan Pustakawan Indonesa, Provinsi Aceh.



