Sejatinya traveling bukan milik orang kaya saja. Tukang kayu yang kita anggap kumal dan berdebu bisa traveling ke luar negeri. Sopir kontainer, cleaning service, pelayan restoran bisa berliburan ke tempat terindah di dunia. Sekali-kali boleh kita tanya kepada turis-turis asing yang datang ke Bali. Apa pekerjaan di negeri asalnya sehingga bisa berjalan-jalan ke Bali.     

Gambar: Penulis mewawancarai petani rumput laut saat di Minahasa Utara

 Ternyata soal mindsed traveling saja memang kita harus banyak belajar dari barat, misalnya Eropa. Orang barat memang menyiapkan “kaleng” khusus untuk tabungan yang akan dihabiskan untuk traveling.  Mereka mengatur kalender pribadi dengan telaten. Kapan saat kerja dan kapan saat harus berliburan. Sementara di Indonesia? Hari libur pun orang Indonesia “bekerja”. “Mumpung libur, bisa isi waktu jualan es kelapa, mumpung libur ngojek dululah”.

Memang, tidak semua orang bisa berjalan-jalan. Tapi tidak sedikit yang keukeuh mewujudkan mimpinya bisa menjadi seorang traveler. Melalui cara tidak biasa, nekad, ekstrem, serta berbahaya. Mereka membuktikan bahwa hidup ini terlalu singkat, dan kita memang perlu berjalan-jalan. Kita memang harus bepergian ke suatu tempat untuk bersenang-senang. Jiwa raga kita butuh rehat, dan penyegaran.

Banyak kisah menarik Solo Traveler di dunia. Mulai melintasi zona perang, tersesat, tidur di depan toko. Penulis buku The Gong Traveling, Gol A Gong keliling Asia dengan sepeda.  Bahkan, ia berkisah ke saya, ketika muda saat menjadi Solo Traveler ia sering makan di acara hajatan tanpa diundang.

Buku Gong Traveling karya Gol A Gong

Traveling lebih nekat lagi dilakukan oleh Toshifumi Fujimoto (45). Lelaki asal Jepang tersebut hobi traveling ke berbagai negara yang sedang dilanda perang. Fujimoto yang sehari-hari bekerja sebagai sopir truk di negaranya melakukan hal itu untuk memaknai perjalanan hidupnya. Ia merasa kesepian, bercerai, dan merasa tidak memiliki teman dekat untuk bercerita. Sehingga traveling adalah pelampiasan hidupnya.

Graham Hughes, traveler asal Inggris keliling dunia tanpa naik pesawat. Ia menyewa angkutan darat yang ada di negara yang dikunjungi. Naik kereta api murah, atau menyewa perahu. Cara tersebut ia lakukan selama empat tahun lamanya.

Gambar: Penulis di situs Tapak Kaki Raksasa Tapaktuan, Aceh Selatan.

Tentu saya tidak ingin menjadi traveler nekat seperti Gol A Gong, Fujimotto, Graham Hughes, atau seperti traveler Sam Derry-Woodhead (18) yang tersesat di Australia hingga terpaksa meminum air kencingnya demi bertahan hidup. Saya memang bukan traveler sejati, tapi saya pernah berjalan-jalan dari Aceh hingga Papua selama satu dekade ini dengan cara yang tidak biasa.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==