Jepang dalam Empat Cerita: Perjalanan, Musim, Keanehan, dan Budaya

Oleh: Vini Hidayani

Melakukan perjalanan, entah apa tujuan awalnya, selalu menghadirkan renungan-renungan baru bagi saya. Kota yang sama yang dipijaki dua kali bisa saja menyimpan puluhan cerita yang berbeda. Misal, ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Osaka pada Desember 2024 lalu di musim dingin, semua saya lihat dengan kacamata turis. Kali kedua ke Osaka pada bulan Juni 2025 lalu, saya perlahan melihat Osaka dengan kacamata yang berbeda.

Dotonbori masihlah selalu ramai. Kali ini saya berani mengeksplorasi sendiri segala sudut di Dotonbori hingga Shinsaibashi. Saya keluar-masuk BookOff untuk mencari barang-barang branded second hand dengan harga yang murah. Toko ini termasuk incaran orang-orang Indonesia ketika berkunjung ke Osaka.

Sedikit tips dari saya: kalau hendak menuju BookOff, kalian harus memastikan G-Maps yang membawa kalian sudah tepat! Karena di dalam Dotonbori itu ada BookOff lainnya yang menjual buku, dan setelah tiga kali saya ke store tersebut, kali terakhir saya tersesat ke toko buku. Tapi sebagai pelancong, justru ini menggembirakan! Karena kaki saya justru asyik menyusuri rak-rak buku yang penuh berbahasa Jepang.

Beberapa buku yang menarik perhatian saya terjemahkan menggunakan Google Translate. Hanya melalui skimming saja, saya mendapatkan sedikit gambaran mengenai buku-buku apa yang biasanya dikonsumsi oleh penduduk Jepang.

Masih soal toko buku, di Dotonbori juga ada toko buku kecil di samping jalan yang menjual koleksi buku-buku langka. Ada pula semacam lukisan dan gambar yang dijual terpisah. Harga buku-buku ini dimulai dari 300 yen hingga 5.000 yen atau sekitar Rp33.400 hingga Rp557.000 (kurs 01/09). Bagi kolektor, saya rasa ini menjadi harta karun yang bisa ditemukan di Osaka!

Setelah berpuluh kali keluar dari convenience store seperti Family Mart, saya hafal beberapa pola orang yang keluar-masuk. Kadang orang tua membeli rokok lalu merokok di luar Family Mart sambil melihat jalan dengan pandangan kosong. Ada pula lainnya yang seperti saya: hanya membeli onigiri dan sandwich untuk makan malamnya.

Dalam kecepatan berjalan di metro, saya beberapa kali melihat perempuan yang menangis tetapi masih dalam tempo berjalan yang begitu cepat. Tidak ada waktu untuk kesedihan di kota ini. Ketika saya sampaikan kepada kawan, ia berujar, “Vin, pernah ke Stasiun Manggarai di jam sibuk? Ya. Sama saja, di Jakarta juga tidak ada waktu untuk kesedihan.”

Train to Kobe

Untuk menjelajahi wilayah Kansai, saya membeli Kansai Pass lewat aplikasi Klook. Pass ini bisa digunakan sebagai kartu transportasi yang mencakup area Osaka, Kyoto, Kobe, hingga Nara. Berkat pass ini pula saya akhirnya mengunjungi Kobe.

Karena waktu yang terbatas, sore hari saya baru beranjak menuju Kobe dengan dua tujuan: mengunjungi Masjid Muslim Kobe atau ke Pantai Harborland. Sayangnya, masjid tertua yang dibangun pada tahun 1935 ini gagal kami kunjungi karena tutup terlalu cepat, yakni pukul 18.00 waktu Jepang, sementara saat itu kami masih berada di metro. Akhirnya, berbekal Google Maps, kami mengunjungi Harborland.

Butuh jalan kaki beberapa kilometer sampai akhirnya kami menemukan lokasi tujuan kami. Baru saja turun kereta JR, kami sudah disuguhi pemandangan malam Kobe yang sepi. Benar-benar sepi! Kalau kalian ingat adegan film Train to Busan, nah rasanya saat itu saya seperti sedang menunggu datangnya zombie.

Sebuah ketenangan yang menegangkan! Sekalipun sepi, saya dan kawan (hanya kami berdua) tetap melanjutkan perjalanan. Makin jauh kaki kami melangkah, suasana semakin horor. Kami berada di pinggir jalan raya besar dan tidak ada seorang pun yang lewat. Hanya ada satu truk besar yang kadang-kadang lewat. Rasanya kalau terjadi apa-apa pada kami di malam itu, mungkin tidak akan ada saksi yang melihat!

Ternyata dibanding rasa paranoid, rasa lapar lebih menguasai saya. Akhirnya saya dan kawan sepakat untuk putar balik, minimal ke Family Mart untuk membeli makanan. Saya sempat memotret beberapa momen. Tampaknya itu adalah pengalaman terakhir saya pergi ke Kobe di malam hari!

Musim Panas yang Berangin di Toky

Perjalanan ke Jepang kali kedua ini saya sempatkan untuk mampir di Tokyo. Beberapa tempat yang sempat saya kunjungi adalah Akihabara, Ginza, Shibuya, dan Chiba, tempat saya menginap. Meski berangkat di musim panas, saya sungguh tidak menyangka kalau Tokyo sangat berangin! Setiap keluar rumah kami setidaknya harus menggunakan satu lapis jaket agar tidak masuk angin.

Menariknya, di musim dingin justru saya sama sekali tidak masuk angin! Di musim panas saya malah tiba-tiba jatuh sakit di tengah perjalanan. Meski banyak orang sudah tahu di Jepang itu banyak berjalan kaki, tetapi realitasnya berjalan kaki jauh dan lama itu sungguh melelahkan.

Suatu hari di Stasiun Shibuya saya mengalami sakit perut parah, saya keringat dingin, hampir tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi! Di dalam toilet stasiun saya hanya bisa berpasrah pada Tuhan dan meminum stok obat yang saya bawa dari Indonesia.

Jaket adalah kewajiban! Meski melihat penduduk lokal dan turis mancanegara mengenakan kaus pendek dan celana pendek saja, tidak apa-apa mempertahankan jaket, ya!

Hal-Hal yang Terlihat Aneh di Jepang

Menurutku, Jepang adalah negeri terbaik untuk belanja! Apalagi di Osaka, dari kuliner hingga barang branded baru atau second hand melimpah ruah. Brand lokal asli Jepang seperti Uniqlo, GU, hingga sepatu Onitsuka tidak pernah sepi peminat. Tidak hanya menawarkan harga yang relatif terjangkau, kualitasnya juga sungguh baik.

Aku pun ikut serta dalam hiruk pikuk itu, bahkan tidak sehari pun aku keliling Jepang tanpa membawa tentengan di tanganku. Ada yang membuatku tertarik dan baru kusadari juga: orang Jepang suka membawa tas samping yang luar biasa besar di sisi bahunya.

Anak-anak Sekolah Dasar membawa tas yang hampir seukuran tubuh mereka, anak SMP dan SMA membawa tas seperti tas besar pulang kampung di bahu kanan atau kiri mereka yang sepertinya berisi peralatan olahraga, para wanita juga membawa tas yang besar-besar.

Oleh karena itu, rasanya menjadi sangat kasual dan tidak memalukan membawa tas besar dan berjalan hingga berkilo-kilometer. Tas besar memang muat banyak hal, bukan? Mungkin ini juga alasan saya jarang sekali melihat orang yang obesitas di jalan-jalan sepanjang Jepang.

Budaya Malu dan Payung di Musim Hujan

Saya ke Jepang sebenarnya masih di musim hujan. Juni adalah puncaknya musim hujan biasanya. Pada hari perjalanan ke Kyoto, saya perlu mampir ke Family Mart dan membeli sebuah payung bening seharga 700 yen. Payungnya cukup cantik dan saya sungguh berharap bisa membawanya pulang ke Indonesia! Ketika keluar dari hotel saat itu hari sudah hujan, jadi mau tidak mau saya perlu mampir ke Family Mart.

Perjalanan ke Fushimi Inari di Kyoto juga seluruhnya dijalankan di bawah payung. Meski hujan deras, kuantitas turis sama sekali tidak turun. Sejak pintu masuk hingga puncak, turis masih saja ramai dan masih menyempatkan diri berfoto di beberapa spot tertentu.

Sayangnya, dalam perjalanan pulang mengejar kereta terakhir, payung cantik itu tertinggal di metro. Pada hari-hari selanjutnya untung tidak ada hujan besar yang mengharuskan saya menghabiskan sisa-sisa yen untuk membeli payung. Biasanya barang-barang tertinggal bisa dilaporkan kepada petugas, kok. Meski kata kawan-kawan yang sudah lama di Jepang, semua benda akan kembali kecuali payung.

Tentang payung yang tertinggal, saya ceritakan pada seorang kenalan yang baik hati di Chiba. Saya bertanya kenapa orang Jepang gerimis sedikit saja semua serentak membuka payung di jalan, dan payungnya kebanyakan adalah payung panjang yang tidak bisa dilipat. Sungguh tidak praktis menurut saya. Kata Mas Arif yang tinggal di Chiba, “Ya, karena malu.” Saya kembali mencecar dengan pertanyaan lanjutan, “Kenapa malu?”

“Mereka akan malu karena tidak bawa payung! Di Jepang, soal cuaca hampir bisa dipastikan sesuai dengan prediksi. Maka kalau tidak membawa payung ya seperti orang yang tidak siap keluar rumah, seperti orang yang tidak teliti. Pun mereka akan kuyup menuju sekolah atau kantor.”

Ada perbedaan memang dalam hal budaya malu antara Jepang dan Indonesia. Masyarakat kita tampaknya lebih banyak memaklumi dan bersimpati pada orang-orang yang kehujanan.

Namun secantik-cantiknya Jepang, sepertinya memang hanya cocok bagi orang-orang pendiam. Bagi saya yang energi sosialnya melimpah, Jepang bukanlah negeri yang cocok untuk tinggal. Namun yang tentu membuat iri sepenuh hati pada penduduk Jepang adalah pemerintahan mereka yang berfungsi dengan sangat amat baik.

TRAVELING setip hari Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling diluar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==