Sebenarnya sudah sejak dulu saya ingin membaca novel ini, tapi apa daya, harga buku baru yang cukup mahal dan godaan untuk membeli buku lainnya membuat hasrat itu selalu tertunda. Hingga akhirnya saya bisa membeli novel ini di toko buku bekas online langganan dengan harga yang cukup murah. Kalau tidak salah seharga Rp45.000.
Kambing dan Hujan memiliki premis yang amat menarik, sebuah perjalanan cinta sepasang pemuda yang mungkin banyak terjadi di sekitar kita, tapi sering luput dari perhatian. Berkisah tentang pemuda bernama Mif, putra Pak Iskandar, tokoh masjid utara Centong dengan corak Muhammadiyah yang saling jatuh cinta dengan Fauzia, putri Pak Fauzan, tokoh masjid selatan Centong dengan corak Nahdlatul Ulama.
Pertamuan Mif dan Fauzia yang terjadi di Bus antar kota membuat mereka saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah, meskipun mereka tahu bahwa perbedaan ideologi beragama kedua keluarga mereka bisa saja menjadi penghalang.
Setelah dibaca lebih jauh, ternyata aral yang berpotensi menghalangi Mif dan Fauzia tak hanya perihal perbedaan cara beribadah antara kedua masjid, namun juga kisah masa lalu diantara kedua ayah mereka. Pak Iskandar yang ketika masih belia dikenal dengan panggilan Is dan Pak Fauzan yang lebih dikenal dengan nama Mat (atau Moek menurut panggilan Is) ternyata merupakan sepasang sahabat karib.
Is dan Mat biasa menghabiskan waktu dengan mengembala kambing di Gumuk Genjik. Is seorang anak miskin dengan minat belajar yang tinggi akhirnya tumbuh menjadi seorang pemuda masjid di bawah bimbingan Cak Ali, sedangkan Mat yang berasal dari keluarga berada meneruskan pendidikan ke pesantren.

Perbedaan cara beribadah yang diajarkan oleh Cak Ali membuat warga Centong resah dan mengusir mereka dari masjid yang merupakan cikal bakal masjid selatan. Cak Ali, Is, dan kawan-kawan pada akhirnya membangun musala sendiri di sisi sebelah utara jalan yang akhirnya menjadi masjid utara. Sementara Mat seusai menyantri diminta oleh orangtua dan warga untuk menjadi tokoh masjid selatan dan membendung pergerakan yang dilakukan oleh Cak Ali Dkk. Perbedaan cara dalam beragama itu membuat hubungan Is dan Mat merenggang hingga pada akhirnya putus sepenuhnya dan menjadi penghalang utama bagi bersatunya Mif dan Fauzia.
Selain peliknya konflik antar kedua masjid, novel ini juga menyajikan kelamnya sejarah Indonesia pada tahun 1965. Konflik antar kaum beragama dengan PKI yang berakhir dengan pembantaian orang-orang yang diduga terkait dengan partai komunis tersebut.
Pergulatan cinta, ideologi, dan sejarah yang tersaji di dalam novel ini yang disajikan dengan menarik dan mengalir (seperti kata Ahmad Syafii Maarif di bagian bawah covernya) membuat pembaca terbawa arus dan ikut merasakan peliknya dan menaruh simpati atas perjuangan yang dilakukan oleh Mif dan Fauzia untuk bersatu.
Bahkan, pada pertengahan buku saya sempat membatin akan membuat perhitungan dengan Mahfud Ikhwan jika kisah ini berakhir dengan buruk. Tapi, perhitungan itu urung dilakukan karena kisah Mif dan Fauzia ini berakhir dengan indah, mereka pada akhirnya menikah, kedua keluarga yang semula jauh menjadi bersatu, kedua sahabat yang lama terpisah akhirnya bersahabat kembali, kendati tidak dijanjikan akan hidup bahagia selamanya seperti dalam dongeng-dongeng.
Konflik yang berlapis dan penuh plot twist menjadi nilai utama dari novel ini, tapi novel ini juga memiliki kekurangan seperti tokoh Diyah (seorang wanita yang hendak dinikahkan dengan Mif) kurang mendapat peran, padahal berpotensi menjadi masalah baru bagi Mif dan Fauzia. Meskipun begitu, novel ini tetap seru untuk dibaca karena sudah kaya akan konflik.


Identitas Buku
Judul Buku; Kambing dan Hujan
Penulis; Mahfud Ikhwan
Penerbit; Bentang Pustaka
Tahun Terbit; 2015
Jumlah hal.; 374
Tentang Penulis
Sigit Candra Lesmana adalah pria kelahiran Jember, 12 Maret 1992. Saat ini bekerja sebagai penulis lepas. Senang menulis artikel, cerpen, dan puisi. Beberapa cerpennya memenangkan lomba dan diterbitkan di beberapa media seperti Janang.id, Kedaulatan Rakyat, Suara NTB, Kurungbuka.com, Sastramedia.com, dan Langgampustaka.com. Aktif berkegiatan di Forum Lingar Pena cabang Jember dan Prosa Tujuh.

RAK BUKU mulai Mei 2024 tayang satu minggu sekali, setiap hari Rabu. Rak Buku adalah resensi buku. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 700 kata. Honor Rp100 ribu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku, penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Rak Buku.


