Ada satu negara yang sangat serius dengan urusan kebahagiaan. Namanya Bhutan. Negara kecil di pegunungan Himalaya yang diapit Nepal dan Bangladesh, dan di antara dua negara besar di Asia Selatan, sisi utaranya Tiongkok dan selatannya India ini memiliki gagasan unik tentang kebahagiaan yang disebut Kebahagiaan Nasional Bruto (KNB). Tahun 1973, Raja Bhutan, Wangchuk, mulai mengenalkan KNB sebagai kebijakan nasional. Secara ringkas, KNB berusaha mengukur kemajuan bangsa bukan lewat neraca dagangnya, melainkan lewat kebahagiaan — atau ketidakbahagiaan — rakyatnya. Hal tersebut merupakan konsep yang merepresentasikan pergeseran mendalam dari cara kita berpikir tentang uang dan kepuasan, dan kewajiban pemerintah terhadap rakyatnya. (Hlm. 98).

Tingkat kejahatan yang rendah di Bhutan — pembunuhan hampir tidak terdengar — memberi kontribusi terhadap keseluruhan kebahagiaan. Harapan hidup telah bertambah, dari 42 menjadi 64 tahun. Selain itu, pemerintah menyediakan pendidikan dan layanan kesehatan bebas bagi semua warga negaranya. Dan satu lagi, negara beribu kota Thimphu ini adalah negara pertama di dunia yang melarang merokok: penjualan tembakau dilarang. Bagaimana rakyat Bhutan menerima gagasan KNB ini? Eric mengajak bertemu dengan seorang warga Bhutan, Sanjay Penjor. KNB bagi Penjor berarti “mengetahui berbagai keterbatasanmu. Mengetahui seberapa banyak adalah cukup.” (Hlm. 129).

Berbeda dengan Bhutan, negara-negara kaya dan maju di Eropa memiliki konsep lain tentang kebahagiaan. Belanda misalnya. Negara yang berabad-abad pernah menjajah Indonesia ini secara konsisten menempati peringkat di dekat puncak piramida kebahagiaan dalam basis data WDH. Kenapa Belanda begitu bahagia? Kenyataannya, yang tidak bisa dipungkiri pertama-tama karena orang Belanda adalah orang Eropa, yang itu berarti mereka tidak perlu khawatir kehilangan asuransi kesehatan ataupun pekerjaan mereka, karena negara mengurus itu semua. Dan satu lagi, toleransi. Riset Veenhoven menunjukkan bahwa orang yang toleran cenderung bahagia. Orang Belanda menoleransi apa saja, bahkan ketidaktoleransian. (Hlm. 43-44).

Kalau ada yang memandang kebahagiaan atau pencapaian dari sisi materi semata, maka itu ada di Qatar. Negeri di Teluk Persia ini menurut Eric memang merupakan puncak dari negara yang mampu memenuhi hak warganya (welfare state). Air di Qatar gratis, begitu juga dengan listrik, perawatan kesehatan, dan pendidikan. Pemerintah bahkan menggaji mahasiswa meski kecil. Dan tidak seperti negara di Eropa yang mampu memenuhi hak warganya, orang Qatar bahkan tidak dibebani pajak sama sekali. Apakah orang Qatar bahagia? Jika ukurannya uang dan kemakmuran, Qatar tentu negara paling bahagia di dunia.

Enam negara lagi yang termasuk negara terbahagia di dunia adalah Swiss dan Inggris di Eropa, Thailand di Asia, Islandia, Amerika, dan India.
Ada sisi lain dari perjalanan ini yang menunjukkan kebalikan dari negara-negara bahagia itu. Persinggahan di Moldova membuka pandangan mata pada sebuah negara miskin dan kumuh, yang menurut data Ruut Veenhoven merupakan negara paling tidak membahagiakan di bumi.

Kurangnya kepercayaan adalah salah satu sebab orang Moldova tidak bahagia. Selain itu, rasa iri menyebar di bekas negara Republik Soviet ini. “Orang Moldova merasa lebih senang dengan kegagalan tetangga mereka daripada dengan keberhasilan mereka sendiri,” terang Eric. Begitulah mereka terjebak dalam lingkaran kesedihan. Ketidakbahagiaan mereka melahirkan rasa tidak percaya, yang melahirkan ketidakbahagiaan lagi, yang mengarah pada rasa tidak percaya lagi. (Hlm.330). Sikap yang menyepelekan nilai rasa percaya dan persahabatan, yang menghargai jiwa pelit dan curang merupakan alasan mengapa negeri beribu kota Chisinau ini menjadi tempat yang demikian tidak bahagia.
Buku ini tentu saja tidak menawarkan resep bagaimana membuat diri bahagia atau menjadi warga negara yang bahagia. Penjelajahan geografis bersama Eric ini sesungguhnya adalah sebuah perjalanan ke dalam diri yang membukakan cakrawala dan pengalaman menemukan makna kebahagiaan. Sebab, seperti kata Eric di buku ini, “Kebahagiaan bukanlah kata benda atau kata kerja. Dia adalah kata sambung. Jaringan penghubung.”

Judul Buku : The Geography of Bliss
Penulis : Eric Weiner
Penerjemah : M. Rudi Atmoko
Penerbit : PT Mizan Pustaka
Cetakan : Pertama, Oktober 2022 (Edisi Kelima)
Tebal : 520 Halaman
ISBN : 978-602-441-298-2

TENTANG PENULIS: Denny Y.F. Nasution, lahir dan tumbuh besar di Medan, menjadi mahasiswa hingga menamatkan perguruan tinggi di Bandung, bekerja di Jakarta, dan saat ini tinggal di Depok, Jawa Barat. Suka membaca sejak sekolah dasar (terutama koran Waspada terbitan Medan), dan semakin tergila-gila
dengan dunia literasi setelah menjadi mahasiswa dan bergabung dengan Bilik Sastra Rumah Kita (BSRK) STIKOMBandung asuhan penyair (alm) Beni R. Budiman. Tulisan berupa resensi buku pernah dimuat di Harian Pikiran Rakyat Bandung dan Koran Jakarta.

RAK BUKU mulai Mei 2024 tayang dua minggu sekali, setiap hari Rabu, gantian dengan FIKSI MINI. Rak Buku adalah resensi buku. Terbit setiap Rabu. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 700 kata. Honor Rp. 100 ribu. Terbit setiap hari Rabu, 2 mingguan bergiliran dengan resensi film di Layar Bioskop. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku, penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: Rak Buku.



