Kemah Pramuka dan Hantu Kampung Cilukap (1)

Dari gangguan-gangguan semacam itu, dia memutuskan untuk berobat ke Tangerang. Menurutnya, itu adalah guru almarhumah mamahnya dan sangat pandai dalam urusan spiritual atau yang berkaitan dengan gaib.

“Entah kenapa, ketika aku melihatnya selalu merasakan takut. Dan lebih sialnya, tubuhku berat sebelah, Kak,” katanya memulai cerita kepadaku.

“Barangkali penyakit yang Wati alami itu hanya masalah psikologis. Entah kakak tidak tahu istilahnya.. yang pasti Wati terlalu overthinking,” kataku.

Bukan tanpa sebab Wati curhat kepadaku karena dia menganggap aku sebagai kakaknya sendiri. Dia sekarang tinggal bersama ayahnya—tetapi ayah bukan tempat yang pas untuk curhat baginya, sebab ayahnya sudah menghianati dirinya—karena persoalan menikah lagi dengan perempuan lain.

Sebagai anak tugal dan perempuan. Dia merasakan sakit betul. Hatinya seperti tercabik-cabik. Di satu sisi, dia baru saja ditinggal oleh mamahnya yang meninggal beberapa pekan lalu dan sisi yang lain—ayahnya—menikah tanpa ada pemberitahuan sama sekali. Untuk itulah segala masalahnya selalu dicurahkan kepadaku. Tentu saja, kami juga sudah saling percaya dan berbagi cerita sejak masa SMA.

“Wati harus selalu berpikir positif. Jangan menganggap ketakutan itu karena masalah gaib,” kataku menenangkan.

“Tapi kakak harus tahu bahwa ini bermula dari kejadian saat aku SMA itu. Kakak tahu’kan saat kita kemah Pramuka, aku kena gangguan makhluk gaib,” katanya mempercayakan aku.

“Iya, aku masih ingat kejadian itu.”

Aku masih bingung mengapa jin itu sudah empat tahun lebih masih saja menghantui Wati. Padahal, saat Wati terus-menerus kerasukan itu sudah bisa ditangani oleh orang yang aku suruh. Yang jelas, aku masih ingat betul peristiwa yang menyebabkan Wati begini.

Pikiranku melayang pada kejadian yang menakutkan itu.

Pada tahun 2017, sekolah kami sebut saja SMA Bonjes mengadakan kemah Pramuka. Acara kemah ini tentu saja sangat menyangkan bagi para senior sepertiku yang sudah punya balok Laksana.

Sudah barang tentu, ini adalah uji mental bagi adik-adik Pramuka. Namun, aku tidak tahu persis mengapa sekolah kami mengadakan kemah di tempat yang sangat pelosok. Jalanannya juga rusak parah seperti sungai kering.

Jarak tempuh ke lokasi itu kurang lebih tiga jam dari pusat kota. Pada saat itu, aku sudah sangat resah karena melihat jalanan rusak yang diapit oleh pohon-pohon rindang dan tinggi besar.

Sesekali temanku berseloroh. “Lu lihat pohon besar itu. Katanya pernah ada yang bunuh diri. Kalau malam sering bergentayangan.” Di setiap perjalanan dia mulutnya selalu berkicau tentang hantu. Tapi tentu saja, aku tidak menimpalinya.

Sesampainya di lokasi, aku melihat langit sore yang begitu menawan. Tidak ada hal yang ganjil pada saat itu. Yang mengerikan, kami ditempatkan di lapangan bola yang dikelilingi pohon sawit.

Sejauh mata memandang, kami hanya melihat kegelapan di deretan pohon sawit itu.

Aku dan semua orang yang ikut Pramuka mendirikan tenda masing-masing. Usai mendirikan tenda yang lumayan memakan waktu lama, adzan Maghrib berkumandang. Maklumlah, kami berangkat ke tempat ini pukul 14.00 WIB.

“Semuanya siap-siap untuk solat Magrib,” kata Pak Ubai dengan pengeras suara.

“Siap, Pak,” sahut peserta kemah.

Akhirnya, kami berjalan ke perkampungan dan sialnya warga Kampung Cilukap masih mandi di sungai. Sudah barang tentu kami harus mengikuti cara mereka mensucikan dirinya.

Di sungai itu tidak ada pencahayaan sama sekali. Kalau tidak dibantu dengan penerangan seperti senter handphone sangat mustahil orang-orang berani mandi atau untuk sekedar mencuci muka. Semua perempuan yang ikut kemah Pramuka tidak ada yang berani berwudhu di sungai itu kalau tidak diantar oleh lima orang.

Aku juga merinding saat berwudhu di sungai itu usai teman yang selalu bercerita horor itu mengatakan. “Sungai ini sudah memakan korban sebelas nyawa. Konon ditarik hantu air.”

Persoalan wudhu dan salat Maghrib beres. Kami diteriaki oleh Pak Ubai untuk kembali ke lapangan. “Semua yang sudah melaksanakan salat segera ke lapangan!” Suara itu membuat hati mencekam. Tentu saja, aku, dan semua orang yang ikut kemah Pramuka akan dikader di sini nantinya.

Kami semua akan diuji tentang Dasa Darma Pramuka dan yang berkaitan dengan pemahaman Pramuka lainnya.

Singkatnya, pada pukul 02.00 WIB kami dibangunkan dengan cara yang kurang baik. Setiap ada hal yang dianggap menyimpang dihukum berupa push up.

“Kemana sabuk kamu? Hah!?” Teriak pembina kepada salah satu peserta kemah Pramuka.

“Lupa bawa, Kak,” jawabnya sambil menundukkan kepala.

“Bangsat kamu! Push up sepuluh kali.”

“Siapa lagi di sini yang tidak pakai kacu, sabuk, dan atribut Pramuka lainnya yang tidak lengkap. Sini maju, babi!” Suara pembina meninggi. Matanya melotot seperti penari mata dari Bali.

Pada saat itu banyak sekali yang maju dan dimaki-maki. Untung, saat itu aku lengkap menggunakan atribut Pramuka. Tentu saja tidak kena hukum.

“Semua yang tidak lengkap push up sepuluh kali!” Perintah kakak pembina.

Ada enam belas orang yang push up. Sialnya satu peserta tidak mau diperlakukan seperti sehingga terjadilah keributan. Peserta dan pembina saling pukul satu sama lain. Suasana semakin riuh. Namun, kepala sekolah yang juga ikut acara ini melerai keributan.

“Apa-apaan kalian sudah dewasa begini ribut!” Semua yang terlibat keributan tadi ditampar oleh kepala sekolah dengan sangat keras.

Tiba-tiba satu perempuan yang sejak awal sudah murung jatuh pingsan. Selang satu menit dia kesurupan dan berteriak-teriak kencang. Semua peserta dan panitia pelaksana kemah Pramuka tertuju pada perempuan itu.

Tapi aku mengenal suara perempuan ini. Pada saat aku mengintip, ya betul saja itu Wati. Orang yang sudah menganggap aku sebagai kakaknya.

Hatiku berdebar kencang dan aku tersadar dari lamunan.

“Kakak lagi mikirin apa? Kok dari tadi diem aja. Tatapannya kosong lagi” Tanya Wati menyadarkanku dari lamunan.

“Ah, nggak apa-apa. Kakak kepikiran tugas kuliah yang belum dikerjakan.”

Bersambung ke bagian 2.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==