Ya, kenangan kenangan di Samarinda berkelebat lagi. Kala itu lebaran haji 1987 di Pare Pare. Saya naik perahu kayu dari Pare Pare, Sulawesi Selatan menuju Samarinda. Di dermaga Pare Pare, nahkoda mengingatkan tentang bahaya berlayar naik perahu kayu sambil menangkap ikan. Kata nahkoda, “Jika sesuatu yang buruk terjadi, kami tidak punya pelampung. Tapi ada jeriken tempat menampung air tawar.

Tidak ada pilihan bagi saya. Sulawesi harus saya tinggalkan. Kalimantan adalah tujuan selanjutnya. Kapal kayu, itulah transportasi yang ada. Bismillah. Saya dan belasan penumpang berlayar menuju Sanarinda. Dua malam. Pengalaman yang tidak bisa tergantikan dengan apa pun. Saya bisa menikmati matahari fajar yang merah di timur, mengagumi matahari yang tergelincir di cakrawala saat senja, dan purnama dengan jutaan bintang di langit. Laut yang diam dalam malam gelap gulita.


Tiga puluh lima tahun kemudian, saya bersama Rudi Rustiadi – sebagai Asisten Duta Baca Indonesia, menemani saya dalam Library Tour Kalimantan Timur 2022 bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan bekerja sama dengan Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca dan Kantor Bahasa. Kami mendarat di Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Samarinda 19 Juni 2022. Kami berkegiatan kampanye membaca dan pelatihan menulis di Samarinda, Kutai Kartanegara, Balikpapan, Penajam, Paser, dan Pela Kuta Bangun hingga 25 Juni 2025. Saatnya pulang ke rumah. Kangen yang mengelora.

Hari Minggu pagi inilah, saya dan Rudi diajak sarapan oleh Fatih dan Rudini. Tapi sebelum makan, tiba-tiba saya teringat saat pertama kali merapat di dermaga Samarinda 35 tahun yang lalu. Kini dermaga Samarinda di hadapan saya. Ada satu kapal yang siap mengangkat jangkar, membawa penumpang ke Sulawesi. Kami meninggalkan dermaga menuju taman Bebaya – tepian sungai Mahakam.


Di taman Bebaya, saya memberi kursus singkat menulis kepada Rudini sebagai Duta Baca Kalimantan Timur. Rudini sudah menyiapkan 2 naskah buku untuk diterbitkan. Di belum paham betul cara menerbirkan buku tanpa mengeluarkan biaya. Sedangkan Fatih memberi saya hadiah buku kumpulan cerpen berjudul Tabu yang ditulisnya bersama Loganue Saputra Jr yang diterbitkan Muara Kami.

Setelah dari taman Bebaya, kami menuju warung Amado. Pak Taufik – Kabid Pengembangan Perpustakaan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, juga Amin Wangsit dari Kantor Bahasa Kalimantan Tiur sudah menunggu.


Kami meluncur ke warung Amado. Kami mau sarapan soto Banjar. Ya, lapar! Sudah pukul 08:00! Soto Banjar dengan ketupat, sungguh enak. Sudah terasa di lidah.
Gol A Gong


