Buku kumpulan cerpen Sepasang Luka ini salah satu produk literasi yang berhasil dilahirkan. Buku yang disiapkan untuk peringatan Hari Buku Sedunia 2022 ini berisi 30 tulisan karya siswa-siswi SMP se-Indonesia, mulai dari Kupang, Jogjakarta, Majalengka, Denpasar, Cilegon, dan banyak lainnya.

Penulis yang terpilih sudah melewati seleksi yang ketat, dibantu oleh dua orang kurator lainnya. Mengusung tema kritik sosial, rupanya tidak membuat adik-adik ini gentar. Justru saya dibuat kagum dengan cara mereka meramu cerita, dengan sudut pandang yang beragam, lalu kita menjadi paham bahwa anak-anak seusia mereka sudah mampu berpikir kritis dan mengambil sikap dalam memandang kehidupan sosial di lingkungannya.
Saya percaya bahwa peran bacaan mereka tidak bisa dinafikan. Hal semacam ini yang patut kita apresiasi, baik tentang pendidikan yang mereka peroleh dari rumah maupun sekolah. Orang tua dan guru berperan penting untuk tumbuh kembang anak-anak dalam berpikir dan menuliskannya dalam bentuk cerita pendek.
Gol A Gong, selaku Duta Baca Indonesia, berhasil menemukan mutiara dari dasar lautan yang dalam. Bisa jadi, masih banyak sekali di lautan manusia yang luas ini para calon penulis berbakat yang belum kita temukan.

Buku Sepasang Luka ini bisa dijadikan sebagai jejak awal untuk mempertemukan penulis masa depan negeri ini.
Kalau kemudian para orang tua dan guru mampu mengarahkan bakat mereka, siapa tahu di hari depan, beberapa dari mereka bakal bisa menjadi pelopor bahkan duta baca di daerahnya masing-masing. Mereka bisa hadir sebagai seorang penulis ketika masyarakat membutuhkan ilmu menulis, mereka juga bisa hadir sebagai pendongeng untuk menghibur dan sekaligus menanamkan nilai-nilia moral dan kejujuran. Terkadang juga bisa hadir sebagai seorang akademisi. Yang jelas, adik-adik calon penulis besar ini bakal mampu mengubah masyarakatnya ke arah yang lebih baik.


