- Malas menyelesaikan, menyepelekan, karena tergoda oleh serbuan literasi digital. Lebih asik di dunia medsos, main game online, YouTube, kongkow di warung kopi.
- Urusan keluarga dan faktor ekonomi. Biasanya pihak orangtua memintanya untuk membantu keluarga dengan segera bekerja. Akhirnya mimpi jadi penulis tertunda atau ditinggalkan.
- Politik praktis. Pada akhirnya pilihan. Biasanya golongan ini sadar, bahwa menulis ternyata jalan sunyi. Politik lebih menggoda dan riuh penuh pesta-pora.Baginya panggung dan menjadi perhatian publik lebih penting.
- Tenggelam oleh pekrejaan utama yang menyita perhatian. Biasanya mereka menundanya dan menunggu waktu yang tepat untuk menyelesaikannya. Seolah membayar hutang.Nah, paling celaka adalah ketika orang-orang ini tersadar, bahwa mimpinya jadi penulis gagal, bukannya instropeksi, malah menyalahkan orang lain. Mereka tidak segera bangkit dan memperbaiki diri, tapi terus berupaya membentengi dirinya, bahwa dunia menulis itu tidak menjanjikan, sekadar berkhayal, atau yang paling parah menjelek-jelekkan komunitas serta orang-orang dimana mereka dulu pernah belajar, termasuk gurunya.


