Ketika kupikir sudah saatnya aku kembali mengurusi Negeri Permen, aku butuh seseorang untuk membacanya. Orang yang tidak pernah mendengar ide ini, orang yang bisa melihat kekurangan naskah ini dan punya kemampuan memberi solusi. Maka aku meminta seorang teman penulis perempuan untuk membacanya dan memberi masukan.
Di Balik Buku Negeri Permen (2)

















