Di hari pertama, saya meminjam motor Hotel Lancar, tempat saya menginap. Saya menuju Rumah Pengasingan Bung Karno, ke Pasar Bawah menikmati kope jahe Ende, ke dermaga, dan ke Ende kotaku.

Di perempatan jalan, ada jejeran pertokoan tua, pintunya masih dari kayu, paling seitar 20 toko. Kata mereka, ini adalah pertokoan pertama di Ende, berbarengan dengan Rumah Pengasingan Bung Karno.

Saya duduk di depan penjahit Samudra. Mesin jahitnya merek Buterfly. Ada 2 penjahit. Hanya seorang yang sedang mengerjakan pesanan. Dari raut wajah mereka terlukis rasa lelah. Cuaca panas menguji daya tahan tubuh kita.

Ada penual kopi jahe Ende. Hmmm, hangat kopinya. Segelas Rp. 5000,- Saya membeli kopi bubuknya 4 gelas, jadi Rp. 20.000,- Segelas kopi bubuk, bisa menjamu 10 orang sahabat di sore hari. Kopi ini menyegarkan tubuh, walaupun tubuh berkeringat lagi.

Saya edarkan pndangan ke sekeliling. Ada tukang sol sepatu dan ojek bergerombol di perempatan. Juga mobil angkutan kota yang sedang mangkal.

Pagi yang indah dengan orang-orang yang tetap bersemangat mencari nafkah untuk keluarga. Hanya saja, di era digital ini, jika mereka tidak mau beradaptasi, 10 tahun ke depan akan tergusur.

Ende hingga sekarang tetap Ende. Bumi Pancasila. Spirit Bung Karno terasa sekali. Teakhir aku ke Ende pada Maret 2022 saat Safari Literasi Duta Baca Indonesia – Perpusnas RI. Ende merayakan Hari Kelahiran Pancasila pada 1 Juni 2022 laku. Presiden RI – Joko Widodo menghadiri perayaannya.
Gol A Gong


