Pertama kali saya menikmati mie Aceh justru di Kairo, Mesir, April 2015. KBRI di Kairo bekerjasama dengan FLP Aceh mengundang saya, Pipiet Senja (penulis), Irwan Kelana (wartawan Republika), dan Mohammad Fauzil Adhim (Kupinang Kau dengan Bismillah). Novel “Ayat-ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy sedang meledak. Padahal ketika saya ke Aceh pasca tsunami (2005), tidak terpikir mie Aceh di lidah.


Setelah itu, di Kota Serang mulai bermunculan warung mie Aceh, yang rempahnya terasa kuat di lidah. Warung mie Aceh yang pas lokasinya di Patung dan di Benggala. Saya sering menikmati mie Aceh dan teh tarik di sana. Tapi tentu paling lezat jika menikmati kuliner mie Aceh itu langsung di Aceh. Saya lupa kapan persisnya. Tapi berkali-kali saya ke Aceh, pasti menikmati mie Aceh, teh tarik, dan tentu kopi Gayo. Biasnya Nazarudin Musa (Ketua Ikatan Pustakawan Indonesa) dan istri, menjamu saya.
Gol A Gong



