Seperti biasa setiap pulang kampung naik motor, saya selalu memilih jalur Rangkas atau Sampay, karena pemandangannya menyejukkan mata dan jarang macet. Ya, ini adalah literasi keluarga dengan cara traveling, yang tidak akan bisa saya lakukan tiap hari. Di momen lebaran haji atau lebaran idul fitri, kesempatan mengenalkan anak-anak kepada dunia di luar rumah terbuka.



Selama perjalanan saya mengenalkan banyak hal kepada anak-anak walaupun selalu ketar-ketir jangan sampai di tengah hutan sawit atau karet motor mogok atau bocor ban. Ternyata betul. Memasuki Warung Gunung Lebak, motor yang kami tumpangi berempat (saya, istri dan dua orang anak) lajunya sedikit bergoyang-goyang. Wah, alamat ini!

“Duh Bun, kerasa nggak, kayaknya bannya bocor ini?!” seru saya ke istri yang sedang bercanda bersama si Nussa agar anteng selama perjalanan.

“Oh iya yah, coba minggir dulu, Pak,” jawab istri segera menurunkan si Nussa. Ternyata benar saja ban belakang bocor.

Sementara istri saya berjalan kaki bersama Rayya, saya tetap menyalakan motor merayap pelan ke depan mencari bengkel. Ada bapak-bapak lewat mengendarai motor.
“Ada bengkel di depan. Nggak jauh,” kata si bapak.

Alhamdulillah, ternyata tidak jauh. Saya tahu ban dalam roda belakang sudah sering ditambal. Saya putuskan langsung mengganti ban dalam saja tanpa harus repot-repot menambal. Dengan sigap si bapak tukang tambal menggantinya. Setelah beres, karena kelelahan anak-anak minta berhenti di Indomaret untuk beristirahat.

Sekitar 10 menit duduk-duduk di kursi Indomaret, kami melanjutkan perjalanan. Tigapuluh menit kemudian istri meminta saya mencari warung masakan Padang. Mau makan di tempat, sikecil rewel tak mau berhenti. Akhirnya dibungkus dan akan mencari saung kecil di pinggir jalan. Ribet, yah? Makanya doain kami, moga tahun depan sudah punya mobil hehe.

Selesai makan di saung kecil pinggir jalan, kami kembali melanjutkan perjalanan melewati hutan karet dan sawit yang menyejukkan pandangan. Sesekali si Nussa teriak girang menyaksikan Excavator di lokasi-lokasi proyek pembangunan.

Waktu dhuhur pun tiba, kami berhenti di musola kecil beberapa meter sebelum alun-alun Malimping. Saat saya di kamar kecil untuk kencing, rupanya si Nussa ikut ke tempat wudhu tanpa ketahuan memutar keran dan ketawa-ketawa girang. Rupanya main air hingga baju dan celananya basah kuyup. Duh dasar bocil. Hehe.

Setelah sholat dhuhur celana dan baju si Nussa saya coba jemur, sambil beristirahat sebentar selonjoran karena kaki lumayan terasa pegal. Rupanya 10 menit di jemur, pakaian si Nussa tak kunjung kering, kami pun terpaksa membongkar ransel mencari salin si kecil.

Sekitar 40 menit kemudian, kami mampir ke pantai Bagedur mumpung lengkap sekeluarga. Kebetulan istri saya juga belum pernah saya ajak mampir. Saya beberapa kali ke pantai Bagedur, ternyata tidak banyak perubahan. Tiket masuk masih murah, hanya 5 ribu perorang. Sementara anak-anak tidak dipungut bayaran.

Saat kami masuk pantai angin terasa begitu kencang, di bibir pantai ditancapkan banyak peringatan agar pengunjung tidak berenang ke tengah, karena ombak tengah pasang. Anak kami asyik bermain pasir, kali ini tidak kami izinkan bermain air laut karena tidak banyak bawa salin pakaian.

Di pantai ini para pedagang masih menjajakan dagangannya dengan harga relatif murah, hanya 5000-an. Ada pedagang bakso, petis, es doger, jagung bakar, dan pakaian.

Satu jam di pantai kami pun melanjutkan perjalanan, kasian kakek nenek Nussa dan Rayya pasti sudah kangen nunggu di rumah. Alhamdulillah kami tiba menjelang ashar.

Seperti biasa, mau idul adha atau pun idul Fitri di kampung kami Sumurbatu ngikut saja keputusan pemerintah. Selamat beridul Adha, selamat memaknai segala bentuk pengorbanan.
Anas Al Lubab


