Oleh: Naufal Nabilludin
Menonton Losmen Bu Broto: The Series adalah pilihan menarik untuk mengisi waktu di tengah sibuknya pekerjaan. Selain membuat kangen liburan karena setting lokasinya yang Jogja banget, series ini juga banyak mengeksplorasi lokalitas budaya Jawa.
Serial drama keluarga yang disutradarai oleh Arwin Wardhana ini mampu menghadirkan kompleksitas karakter keluarga Bu Broto yang sangat kental dalam menjaga tradisi Jawa.

Bu Broto (Maudy Koesnaedi), dibantu oleh suaminya, Pak Broto (Mathias Muchus), berusaha memastikan losmen yang sarat tradisi Jawa tetap berjalan di tengah modernitas dan konflik keluarga.
Sejak episode pertama, penonton sudah disuguhkan berbagai konflik keluarga Bu Broto. Mulai dari kesalahan pada sistem pemesanan yang dibuat oleh anak laki-laki mereka, Tarjo (Baskara Mahendra), konflik rumah tangga anak kedua, Sri (Febby Rastanty) dan suaminya Jarot (Marthino Lio), hingga kisah Pur (Ayushita), anak sulung yang ditinggal meninggal suaminya.

Pada episode awal, Tarjo—mahasiswa akhir yang sedang bergelut dengan tugas akhir—bertemu Anna (Wulan Guritno), tamu losmen sekaligus istri dari sahabat bapaknya, Mas Jody (Indra Birowo), yang sedang mengalami masalah rumah tangga. Ketidakharmonisan hubungan Anna dan Jody membuat Anna mencari “pelampiasan”.

Tarjo yang awalnya hanya ingin menemani Anna sebagai tamu losmen justru terjebak dalam cinta terlarang bergaya Oedipus complex, jatuh cinta pada perempuan yang jauh lebih tua. Konflik ini makin berat karena keluarga Broto memiliki hutang budi pada Mas Jody.
Yang membuat series ini menarik adalah eksplorasi konflik tiap karakter. Semua anggota keluarga di Losmen Bu Broto memiliki masalah masing-masing. Inilah yang membuat cerita hidup dan penonton penasaran dengan kelanjutan setiap episodenya.

Selain kisah Tarjo dan Anna, konflik Sri dan Jarot juga menonjol. Sri, seorang penyanyi, dan Jarot, seorang seniman, menjadi anomali di keluarga tradisional ini. Terlihat dari pakaian mereka yang lebih ekspresif dan tak umum. Jarot mendapat kesempatan residensi di Belanda dan ingin mengajak istri serta anaknya. Namun Sri bersikeras tinggal di Indonesia untuk mengejar karier sebagai penyanyi profesional. Ego keduanya sama-sama tinggi, sehingga tak ada yang mau mengalah.

Sementara itu, Pur—anak sulung—lebih senang memasak dan mengurus losmen. Sejak kematian suaminya, Pur belum bisa move on walaupun didekati Partono (Augie Fantinus). Ia diliputi kebimbangan untuk menerima atau menolak cinta tersebut. Bu Broto sendiri ingin Pur memiliki kehidupan di luar dapur dan dunia losmen.
Tak hanya konflik serius, ada pula cerita yang menghibur: kisah cinta Atmo, si penjaga losmen, dengan Ji Hae (Kim Hannah), perempuan asal Korea. Side story ini mengundang tawa sekaligus menjadi selingan di tengah konflik serius keluarga Bu Broto. Pelafalan campuran bahasa Jawa dan Korea terasa menggemaskan. Penempatannya pun pas, sehingga tidak membosankan.

Salah satu hal yang saya sukai adalah pengenalan budaya Yogya yang keren. Karakter Anna sebagai penulis membuat cerita lebih hidup karena ia melakukan riset budaya Yogya. Namun, dari sudut pandang Partono sebagai pemandu wisata losmen, seharusnya bisa lebih banyak disisipkan cerita budaya Yogya.
Secara keseluruhan, series ini cukup seru untuk ditonton sampai akhir (8 episode). Hanya saja, di episode terakhir ketika Mas Jody tahu istrinya berselingkuh dengan Tarjo, ia malah melaporkan Pak Broto ke polisi hingga ditahan. Bagian ini cukup membingungkan—kenapa yang dibawa ke penjara justru Pak Broto, padahal yang berselingkuh adalah Tarjo? Meski begitu, adegan ini membuat alur cerita semakin menegangkan. Bu Broto pun harus mengambil peran ganda dan memecahkan konflik keluarga yang memuncak.

Losmen Bu Broto: The Series adalah perpaduan pas antara konflik, kehangatan keluarga, komedi, dan budaya. Yang patut diapresiasi, meskipun Tarjo merepotkan keluarga, kedua orang tuanya tetap hangat dan memaafkan. Begitu pula dengan cara Bu dan Pak Broto mendidik anak-anaknya—tak ada yang dibeda-bedakan meskipun tiap anak punya masalah sendiri.
Series ini cocok ditonton bersama keluarga, namun kurang tepat jika ditonton anak-anak karena ada beberapa adegan dewasa.




