Haqqi bercerita, pada tahun 2015 lalu, ia tamat kuliah S1, kemudian lanjut mengambil S2 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selama kuliah S2 itu, Haqqi mendapat beasiswa dari Yayasan Pendidikan Tinggi Trisula Bengkulu.

“Setelah tamat S2 pada tahun 2017, dirasa pengalaman dan ilmu tentang manajemen sudah mumpuni, akhirnya Pembina Yayasan menunjuk saya untuk menjadi Ketua Yayasan,” kata lulusan S2 Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam ini.

Lalu, apa saja program atau gebrakan Haqqi untuk memajukan Kampus Trisula?
“Salah satu gebrakan dari saya untuk memajukan Kampus Trisula Bengkulu adalah memperbanyak melakukan kegiatan menjalin kerjasama dengan berbagai macam instansi yang berkaitan dengan beberapa prodi di Kampus Trisula Bengkulu. Alhamdulillah untuk sekarang kita sudah melakukan MoU dengan BPJS Kesehatan dan beberapa instansi yang terkait dengan Teknik Sipil,” jelasnya.

Saat ditanya apa perbedaan pendidikan Trisula Bengkulu dengan pendidikan di tempat lain?
Haqi menjelaskan Kampus STIT Trisula Bengkulu memiliki keunggulan, diantaranya pertama biaya kuliah bisa dicicil dan terjangkau. Kedua, jadwal kuliah fleksibel. Ketiga tidak ada batasan umur mahasiswa. “Dan yang keempat, satu-satunya kampus di Provinsi Bengkulu yang membuka Prodi Teknik Pertambangan S1,” jelasnya.

Kampus STIT Trisula Bengkulu memiliki 4 Prodi. Antara lain: Teknik Sipil S1, Teknik Arsitektur S1, Teknik Pertambangan S1 dan Teknik Sipil D3.
Lantas apa saja suka duka selama menjadi ketua yayasan?

“Kalau ditanya sukanya yaitu kita bisa lebih dihargai dan dihormati oleh orang banyak. Tapi walaupun seperti itu, tetap saya sebagai ketua yayasan harus rendah hati dan tidak meremehkan orang lain. Kalau dukanya yaitu banyak tanggungan dan tanggung jawab yang sangat besar untuk memajukan Kampus Trisula Bengkulu. Tapi sejauh ini kita ambil hikmahnya saja dan menikmati apa yang ada di depan kita,” pungkasnya..



