Saya terkenang ke masa muda. Jika natalan, saya ikut merayakan makan-makannya bersama teman-teman yang beragama Kristen. Tiba tahun baru, pasti meniup terompet. Atau ke pantai, begadang ngobrol ngalor-ngidul membicarakan masa depan hingga pagi.

Setelah berkeluarga, lebih khusyuk bersama istri dan anak. Ngobrol di meja makan, resolusi tahun depan. Tentu menegaskan, bahwa kita harus tolerans dengan agama lain yang sedang merayakan natal. Mengucapkan selamat tidak kemudian diartikan kita pindah agama. Kita tetap Islam – itu bagian dari hamblum minnanas. Kami juga memberi tahu, bahwa ada 1Muharam – tahun baru Islam. Kami juga merayakan tahun baru Islam.



