DI jalanan kampung, Roro berhenti. Dia membubarkan road race anak-anak remaja, yang mengganggu kenyamanan warga. Mereka mendominasi jalanan, yang biasa dipergunakan oleh ibu-ibu pergi-pulang kerja naik sepeda. Road race itu bubar.

“Gila! Roro mengusir anak-anak yang lagi road race itu! Pada takut mereka sama Roro!” kata Daniel. Ya, road race itu bubar. Kami melanjutkan perjalanan, mengikuti Roro yang melaju dengan motor literasi hibah dari Perpusnas RI.

Saya, Rudi, dan Daniel sampai di rumah khas Jawa. Semacam rumah pendopo. Joglo. Sejak di halaman sudah terasa barang-barang bekas seperti botol ditumpuk. Juga ada motor limbah pustaka, yang keliling kampung menampung barang bekas.

Roro menjelaskan Limbah Pustaka setiap hari menyediakan layanan baca gratis, peminjaman buku, sodakoh sampah, wisata edukasi sampah, pelatihan pengolahan limbah hingga menyediakan internet gratis.

Saya berbincang-bincang sebentar. Saya kagum. Roro mengungkapkan perasaannya, “Mimpi yang jadi kenyataan, Kang Golagong Duta Baca Indonesia mampir ke Limbah Pustaka, Trimakasih Kang Golagong, Mas Rudi dan rombongan, Mas Indra beserta rombongan, Tambahan amunisi penyemangat untuk bergerak, Kerawuhan Tamu Agung Matur Nuwun Ya Allah…”

Saya menitipkan buku karya Helmy Yahya: Connect The Dots. Di setiap traveling seperti ini, saya selalu menemukan local genius. Hari sudah senja. Besok meluncur ke SMAN 1 Ajibarang. Lalu di Hetero Space Purwokerto. Dan pulaaaaaang.
Gol A Gong



