Hal ini berawal dari Andrei membaca pengumuman di internet yang mengundang mahasiswa-mahasiswi dari beberapa negara untuk ikut workshop dan belajar singkat di Universitas Luimere Lyon 2, Perancis. Ia tertarik mendaftarkan diri dan namanya lolos sebagai salah satu mahasiswa undangan.
Perjalanan itu dimulai dari Banjarmasin – kota kelahiran, setelah itu ke Batam sampai Singapura. Harga tiket di negeri yang paling mentereng di Asia Tenggara ini harganya cukup fantastis.

Atas saran pemuda lokal sekitar umur 25 tahun yang ditemui di Esplanade, Andrei pun disuruh membeli tiket ke Malaysia – harganya lebih bersahabat. Maka saat itu, Andrei mulai mengembara ke Eropa. Di atas pesawat ia bertemu pramugari Adinda dan Alifa. Untuk membunuh kebosanan, mereka bertiga diskusi sesekali terselip candaan agar lebih akrab.
Saya setuju dengan kesan Mas Gong mengenai buku ini, katanya beliau sampai terbahak-bahak. Bagaimana tidak, penulis apik mendeskripsikan perasaannya, seolah-seolah kita di sana menyertai penulis yang cukup produktif menulis di blog pribadi.

Misalnya kegalauan Andrei saat tiba di Bandara Frankfurt, ia kebingungan sebab bekal uang menipis, handphone tidak punya pulsa dan ia tidak kenal siapapun. Apalagi awal menginjakan kaki di negeri kincir angin itu, ia dibuat cemas kalau berurusan dengan keamanan negara untuk warga asing.
Benar saja, saat ditanya paspor oleh petugas ia dibuat bingung. Paspornya hilang, rasa cemas mulai menghantui pikiran. Untung saja Adinda – pramugari pesawat menunjukan kepadanya bahwa buku paspor ada di saku baju. Oh my God! Jauh-jauh mencari ternyata ada di sakunya.

Di Perancis ia tinggal dengan keluarga kecil. Di sini lah keseruan sekaligus hal agak sentimental terjadi. Andrei terkena cinlok. Sialnya tak hanya satu wanita. Ada Lin dan Julian. Ah, berdebar-debar saya membaca.
Catatan perjalan berbaur dengan kisah cinta menambah khazanah pengalaman. Kita diajak menyusuri Eropa dengan nuansa, watak dan karakter. Banyak hal baru menjadi pengetahuan dan wawasan bagi pembaca yang budiman, misalnya toleransi tidak hanya sekedar pemanis belaka.
Tentu saja kisah cintanya dengan Jules lumayan menguras air mata, ditambah dengan kisah persahabatan dengan Ling – tumbuh benih cinta. Belum kisah pelosingan dengan mahasiswa lain yang punya kesempatan yang sama.
Lantas bagaimana ceritanya? Lebih jelasnya, silakan baca sendiri. Layak menjadi koleksi di rak buku anda.
Penulis Buku: Andrei Budiman
Jumlah Halaman: 240 halaman
Penerbit: B First
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Februari 2012
Alamat: Pandega Padma 19, Yogyakarta 55284
(*)
Pandeglang, 27 Desember 2023. 17.59 WIB


