Belajar Bersyukur dari Novel Sisi Tergelap Surga Karya Brian Khrisna

Oleh: Khoiru Roja – Relawan Rumah Dunia dan Peserta KMRD 40

Pada saat saya sedang duduk di pendopo Rumah Dunia bersama Kak Naufal, tiba-tiba muncul Mas Gol A Gong dari rumahnya dan berjalan menuju kami. Lalu Mas Gol A Gong menanyakan kepada saya perihal membaca buku. “Kamu harus menghatamkan satu buku buat direview. Akan ada honornya 100 ribu,” kata Mas Gong. Mendengar hal itu, saya pun bersedia. Pada akhirnya, saya jadi semangat untuk membaca buku.

Besoknya saya mencari buku di perpustakaan Rumah Dunia. Judulnya Manusia Kosong. Baru membaca satu–dua lembar, saya merasa bahasanya terlalu rumit untuk saya tangkap. Saya pun mencari buku lain. Lalu Kak Naufal merekomendasikan Sisi Tergelap Surga, yang menurutnya mudah dipahami dan menarik untuk dibaca.

Novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna menurut saya adalah buku yang wajib kalian baca. Sebab di dalamnya banyak sekali dorongan agar kita lebih bersyukur. Novel yang terbit pada 2023 ini mendorong kita untuk memiliki rasa kasihan kepada orang-orang yang sering tidur di pinggir jalan. Tokohnya banyak berasal dari kelas pekerja jalanan: pengamen, preman, pelacur, dan lainnya yang rela bekerja apa saja demi kehidupan dan keluarga mereka.

Saya pribadi sangat kagum dengan orang-orang dalam novel ini. Hidup mereka serba kekurangan; impian menjadi orang yang serba berkecukupan bukanlah pilihan. Tetapi merasa cukup adalah sikap yang patut dianut.

Setelah membaca buku Sisi Tergelap Surga, saya jadi lebih merasa kasihan kepada pekerja jalanan yang bekerja bukan karena keahliannya, tetapi lebih karena keterbatasannya. Buku ini juga menyadarkan kita agar tidak cepat menghakimi dan menumbuhkan empati terhadap mereka yang hidup di jalanan, serta memahami alasan dan perjuangan mereka untuk bertahan hidup.

Dalam novel ini banyak sekali karakter dengan latar dan konflik masing-masing. Ada Juleha, si pelacur yang rela menjajakan harga dirinya demi anaknya. Ada lelaki tua dengan kostum badut ayam yang mengemis demi ketiga putrinya. Danang, sosok lelaki yang dianggap paling sopan dan baik akhlaknya di kampung, ternyata adalah seorang waria.

Kemudian ada Esih, yang dianggap wanita paling salehah, ternyata hamil sebelum menikah. Tomi, preman yang ditakuti di kampung, berubah sikap sejak dikaruniai anak. Riri yang rela tubuhnya dinodai Pak Lurah karena ancaman. Resti, seorang sarjana yang tertipu menikah dengan pria yang tampak mengerti agama tetapi tidak menafkahi keluarga. Gofar, anak muda yang mencuri demi membeli obat untuk ibunya. Dan masih banyak lagi.

Dari banyak tokoh itu, saya paling tertarik pada kisah Resti. Ia rela menikah dengan pengangguran. Suaminya sehari-hari tidak mau bekerja; hanya bermain game Pokémon. Ia mengandalkan game itu dengan harapan ada yang mau membeli akunnya. Mendengar hal itu, Resti hanya menurut, karena ia menganggap melawan suami adalah dosa. Tetapi dibalik itu ia memikirkan: anaknya mau minum apa, karena susu hampir habis.

Dengan tekad, Resti mencoba mengambil susu terlebih dahulu di warung-warung tempatnya biasa berutang. Namun warung-warung itu sudah tidak mau memberi utang lagi karena terlalu banyak susu yang belum dibayar. Tetangga pun mulai membicarakannya: “Padahal suaminya paham agama, kok gitu ya?”

Sampai satu ketika, Resti pasrah dan meminta izin bekerja. Namun suaminya dengan lembut berkata, “Udah, kamu di rumah saja. Tugas kamu merawat anak. Biar aku yang kerja.” Padahal ia hanya sibuk dengan game Pokémon. Dalam Islam, menafkahi istri itu wajib—bahkan dijelaskan dalam Q.S. An-Nisa ayat 34. Mendengar itu, Resti tetap menurut. Ia hanya bisa sabar dan berdoa semoga game Pokémon suaminya ada yang membeli.

Lalu suatu hari Resti memberi tahu suaminya bahwa ia hamil lagi. Suaminya menjawab sambil tetap bermain game: “Alhamdulillah, berarti rezeki kita ditambah.”

Novel Sisi Tergelap Surga adalah novel dengan bahasa yang ringan sehingga mudah dimengerti. Konflik yang dihadirkan, terutama dalam kisah Ratih, selalu mengandung pelajaran yang bisa kita petik. Selain itu, novel ini sarat pesan moral dan spiritual tanpa terasa menggurui. Saya sangat beruntung bisa membaca novel ini, karena banyak gambaran kehidupan yang sebelumnya belum saya ketahui: tentang ekonomi, kesabaran, dan sebagainya.

Banyak tokohnya memang memiliki sisi gelap, tetapi di baliknya selalu ada kebaikan yang tertutup. Misalnya Tomi yang rela menafkahi Ujang sampai lulus SD karena menganggap Ujang anaknya. Atau Danang yang bisa menjadi imam salat jenazah ketika sahabatnya, Juleha, meninggal.

Dalam kehidupan, setiap orang pasti memiliki cobaannya masing-masing. Tanpa cobaan, seseorang tidak akan naik level. Keterangan ini bahkan dijelaskan dalam Q.S. Al-Mujadilah ayat 11. Namun setiap cobaan punya porsinya; Tuhan memilih ujiannya sesuai kadar manusia yang diberi ujian.

Tentang Penulis:

Khoiru Roja Mahasiswa Universitas Islam Negeri Banten, jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Sejak tahun 2024 mengabdi sebagai relawan dan belajar menulis di Rumah Dunia. Mendapatkan beasiswa F-KIP UIN Banten dan sekarang masih semester 3. Selama kuliah, Roja aktif di satu organisasi HMI MPO UIN Banten. Roja punya ambisi untuk bisa kerja di luar negeri yaitu Australia dan juga Roja ingin bisa menonton pertandingan sepak bola di Camp Nou.

RAK BUKU  adalah resensi buku. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 1000 kata. Honor Rp100 ribu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku, penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Rak Buku

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==