“Dunia milik orang-orang pemberani, berani dalam mengungkapkan sesuatu yang baru dan siap menghadapi segala risikonya.” (Cuplikan orasi Orakadut, si Gila dari Kota Golokali)
oOo
“Jadi, Denny JA itu pemberani?” tanyaku kepada Orakadut.
Orakadut, tersebutlah namanya. Orang-orang menyebutnya “si Gila dari Kota Golokali”. Dia mengaku sebagai filsuf. Dia menolak disebut kapitalis yang menyamar jadi sosialis.
Rumah Orakadut di kolong jembatan. Tidak ada yang tahu asal-usulnya. Tidak ada yang tahu juga bagaimana dia bisa memiliki tubuh yang bugar dan sehat, di balik pakaiannya yang compang-camping. Memiliki wajah bercahaya dibalik topi laken bututnya. Setiap hari Orakadut membaca di perpustakaan.
Di akhir pekan, orang-orang berkumpul di alun-alun kota. Mendengarkan orasinya. Dia duduk di bawah pohon beringin, merasa seperti Gandhi. Tapi kemudian jadi Socrates siap dihukum mati, menghasut anak muda agar melawan status quo.

Orakadut selalu mengingatkan orang-orang di alun-alun kota, agar membaca sastra. Baginya, sastra itu membawa hal baru, membuat dunia berwarna-warni. Sastra membicarakan masa depan yang cerah. Seperti novel-novel Jules Verne (1828-1905) yang menginspirasi orang membuat pesawat terbang dan kapal selam. Juga Mary Shelley dengan novel Frankenstein (1818) menginspirasi Dr. Christian Barnard, seorang dokter Afrika Selatan yang melakukan transplantasi jantung manusia pertama pada tahun 1967.



oOo
Pada 2012, aku mengunjungi rumah Orakadut di kolong jembatan. Dia selalu tahu, jika aku datang bukan di hari lebaran, natal, atau tahun baru, pasti ada hal menarik yang mesti diperbincangkan.
“Bacalah,” kataku menyodorkan sebuah buku dengan cover merah dan burung merpati.
“Atas Nama Cinta,” Orakadut meneliti covernya. Lalu membukanya. “Puisi Esai,” nada suaranya penuh misteri.
“Sapu Tangan Fan Ying,” suaranya bergetar. Lama Orakadut tidak bersuara. Dia tenggelam. Kemudian terdengar lagi menyebut, “Romi dan Yuli dari Cikeusik.” Diam lagi. Besuara lagi, “Minah Tetap Dipancung.”
Kali ini dia mengusap kedua matanya dengan punggung tangannya. Lama tak bersuara lagi.

Kemudian Orakadut berdiri dan berjalan ke pinggir sungai. Dia membasuh wajahnya dengan air sungai yang kecoklatan. “Aku tahu Denny JA itu ilmuwan sosial. Dia seorang peneliti. Kali ini dia mengubah fakta jadi peristiwa dramatis dengan diksi-diksi puitis. Dia mencoba membawa puisi ke tengah masyarakat agar berempati terhadap suatu peristiwa. Itu pernah kau lakukan di novel Balada Si Roy tahun 1988. Kau juga mengenalkan puisi di setiap episodenya.”
Dua tahun kemudian, 2014, aku kembali menemui Orakadut. Kali itu dia sedang memancing. Aku merasa heran, karena yang dia pegang hanya ranting bambu. Dia menjelaskan, “Aku bukan sedang memancing ikan, itu epigon namanya. Tapi aku memancing gagasan. Aku bosan dengan omongan orang-orang, bahwa ‘tidak ada yang baru di bawah matahari’. Padahal imajinasi itu tidak terbatas.”
Aku segera menyodorkan buku setebal 700-an halaman yang ditulis oleh Jamal D. Rahman dkk. “Judul buku ini membuat jagat sastra Indonesia gonjang-ganjing,” kataku gelisah.
Orakadut membaca judulnya keras-keras, “Tiga Puluh Tiga Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh! Penerbitnya KPG!”
“Denny JA di urutan ke-30!” tegasku.
“Ada masalah?”
“Itu persoalannya! Banyak yang menolak Denny JA!”
“Nama kau ada?” Orakadut memeriksa
Aku menggeleng.



“Mestinya namamu ada di sana!” Orakadut tertawa ketika membacai ke-33 nama itu.
Ah! Sialan lu, Orakadut! Wajahku memerah.
“Kau nggak protes?”
“Buat apa? Sastra itu tidak bisa memuaskan semua orang karena sastra bukan pemuas nafsu!”
Orakadut tertawa. “Nada suaramu jadi sinis!”
“Bukan sinis! Tapi heran. Katanya pengikut Roland Barthes, yaitu ‘pengarang sudah mati’! Tapi, tetap hidup dan terus gentayangan mematai-matai. Itu status quo, namanya!”
Ah, sudahlah!
“Novelmu itu – Balada Si Roy – sangat jelas visinya. Mengajak anak muda keluar dari rumah, menyandang ransel, dan mengenal dunia serta menikmati kuliner! Itu ada di surat Al-Mulk, ayat 15! Hal baru lainnya, di setiap episode, kau selalu memulainya dengan kutipan puisi atau kata-kata mutiara! Konsisten! Itu gagasan!” nada suaranya serius. “Denny JA juga begitu! Gagasan!”
Aku melempar batu ke sungai. Kau betul-betul brengsek, Orakadut!
“Nanti aku buatkan buku antitesanya, lima penulis saja – ngapain banyak-banyak! Kelima orang itu membawa gagasan baru dalam sastra Indonesia! Namamu ada di urutan kelima!”
“Satu sampai 4, siapa?”
“Aku harus riset dulu. Versiku, karya sastra itu sebaiknya tidak memiliki dendam sejarah. Si penulis harus dibebaskan dari ikatan masa lalu. Dia harus jadi ‘ilmuwan’, menyampaikan seuatu yang baru dalam visinya untuk masa depan.”
“Ayolah, kasih aku bocoran!”


“Baiklah! Pertama Teguh Esha dengan ‘Ali Topan Anak Jalanan’. Sangat kontekstual, memotret kehidupan remaja Jakarta tahun 1970-an, yang broken home. Itu parenting. Mengajarkan komunikasi aktual antara anak-orang tua.
“Kedua?”
“Novel Cintaku di Kampus Biru, Ashadi Siregar. Terbit 1974 dan setting lokasi Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta dimana semua remaja Indonesia ingin kuliah di sana. Novel ini keren, memberi tahu bahwa cinta mahasiswa ke dosen itu sah. Sindrome oedipus complex tidak menakutkan lagi. Hahahaa!”
“Ketiga keempat?”
“Marga T!”
“Apa istimewanya?”
“Justru karena Marga T dokter jadi istimewa! Biasanya dokter kan menulis resep. Sekarang menulis novel. Karmila Dia menceitakan Karmila, mahasiswi Fakultas Kedokteran, yang diperkosa Feisal dalam suatu pesta. Gila kan! Mimpinya buyar! Juga mimpi keluarga besarnya! Mimpi tunangannya! Mimpi dosennya, rektornya, kampusnya! Mimpi Indonesia”


“Jangan lebay, Orakadut! Bawa-bawa kampus dan Indonesia segala. Sekarang, lanjut! Keempat?”
“Hilman ‘Lupus’. Dia keluar dari penggunaan diksi-diksi baku. Hilman mendokumentasikan gaya hidup remaja Jakarta. Lihat, gaya rambut, tas, dan permen karetnya ditiru!”
“Ah, itu prosa semua! Populer lagi!” Kau bangsat, Orakadut! Betul-betul bajingan!
“Setiap yang populer selalu dianggap tak bermutu! Move on, buddy! Ingat, Plato pernah bersabda, ‘sastra itu tiruan dari kehidupan kita, mimesis’. Atau kata Edgar Alan Poe, setiap kita berkarya, si pembaca harus benar-benar merasa bahwa itu terjadi pada dirinya.”
“Tapi harus ada penyairnya, dong! Pekerja seni lainnya! Nanti kamu dicai-maki, Orakadut!”
“Hah! Kau pikir cuma Denny JA saja yang pemberani dan siap menanggung risiko siap di-bully! Aku juga!” Orakadut bertolak pinggang.




oOo
Berputar-putar dunia ide di kepalaku. Sebagai orang kreatif, ukuran sebuah karya itu ada 3; harus sesuatu yang baru, idenya gila, dan mendatangkan cuan alias berdampak ekonomi.
Aku rasa puisi esai yang digagas Denny JA, walaupun pro dan kontra, bagiku adalah dinamika dalam dunia kekaryaan. Ada anggapan, bahwa puisi esai bukan sesuatu yang baru. Kemudian mulailah puisi esai dibanding-bandingkan dengan prosa liris. Aku rasa itu harus jadi klaim-klaim asertif.
Aku sampai harus menunggu 12 tahun untuk merasa yakin, bahwa gagasan Denny JA dengan puisi esai itu bukan seperti fenomena komet; muncul sebentar kemudian hilang. Prosa liris tidak menjadi sebuah gerakan, seperti halnya puisi gelap, puisi akrobat, puisi… (apa lagi?)



Tapi Puisi Esai Denny JA sebagai sebuah gerakan sangat konsisten dan berkelanjutan. Itu mengacu ke konsep yang aku yakini, yaitu “5K”; kapasitas, kompetensi, konsistensi, kontinuitas, dan koneksivitas. Juga relevan dengan “5 Pilar Kreativitas”; komunitas, program, karya, promosi/publikasi, dan jejaring.
Itu aku buktikan pada 29 November – 3 Desember 2024 di Festival Puisi Esai Jakarta II, PD HB Jassin, TIM, Jakarta Pusat. Aku sampai harus diyakinkan oleh waktu, bahwa Puisi Esai Denny JA memang gagasan dan kemudian menjadi gerakan karena mengacu ke “5K” dan “5 Pilar Kreativitas”.
Kredo “yang bukan penyair boleh bergabung” bukan sekadar kredo. Tapi itu memang realitas yang ada, bahwa masyarakat berjarak dengan puisi. Denny JA berharap, masyarakat luas tidak sekadar mengenal puisi tapi juga menulis puisi dengan jenis “puisi esai”. Aku rasa, yang merasa ebagaipenyair tidak perlu lagi risau.
oOo
Gonjang-ganjing Denny JA tidak pernah berhenti. Dengan gelar akademis Ph.D yang disandangnya dari sebuah universitas di Amerika, tentu kita tidak perlu ragu dengan keilmuannya. LSI Denny JA sudah membuktikan itu – hasil survey Piplres RI-nya selalu tepat. Bahkan lahirnya Puisi Esai Denny JA melalui riset yang panjang.

Kali ini Denny JA masuk dalam daftar nomine untuk Hadiah Nobel Sastra pada tahun 2022 karena ia dianggap sebagai inovator dalam bidang sastra digital dan pencipta genre “puisi esai”. Komunitas Puisi Esai ASEAN (KPEA) menominasikannya setelah menerima undangan dari The Swedish Academy. Denny JA adalah sastrawan Indonesia yang karyanya dikenal luas karena menggabungkan puisi, narasi, dan fakta sosial, serta menyuarakan isu hak asasi manusia.
Diam-diam, aku menyurati panitia Nobel Sastra. Aku mendapatkan jawaban, bahwa setiap komunitas atau negara boleh mengirimkan jagoannya. Hanya saja tidak boleh mengumumkan ke publik sebelum panitia Nobel melakukannya.
Begitulah Denny JA, news maker! Dalam teori jurnalistik, kita bisa menganaslisisnya tidak sekadar unsur berita, tapi juga nilai berita (dampak, memiliki kisah unik/inspiratif, dikenal luas, memiliki kedekatan emosi, dan masih aktif berkegiatan). Sebagai seorang jurnalis, berita seperti ini unik dan memenuhi syarat.

oOo
Lantas aku dikagetkan dengan omongan Donald Trump yang bereaksi keras terhadap BRICS, aliansi negara-negara berkembang dengan ekonomi besar seperti Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan. Ia memperingatkan bahwa dorongan kelompok ini untuk melemahkan dominasi dolar AS mengancam supremasi ekonomi Amerika.
Keterkejutanku belum juga usai, terjadi lagi gonjang-ganjing dengan tokoh utama Denny JA, yang masuk nominasi BRICS bidang sastra. BRICS hadir sebagai penyeimbang Nobel.
Dan terjadilah apa yang dikuatirkan orang. Dua penghargaan BRICS Award 2025 Untuk Sastrawan Dunia jatuh kepada Salwa Bakr dari Mesir kategori BICS Literatur Award dan Denny JA dari Indonesia untuk BRICS Award for Literary Innovation.


Saya jadi teringat omongan Marlon Brando, “Jika kamu dibicarakan di belakang, berarti kamu istimewa. Jika kamu ditakuti, berarti kamu kuat. Jika kamu selalu dijelek-jelekkan, berarti kamu adalah seseorang.”
Penghargaan BRICS Award ini, bagiku, adalah pintu masuk bagi generasi berikutnya. Setelah Pramoedya Ananta Toer digadang-gadang untuk meraih Nobel gagal, ada 2 kesempatan emas untuk Sastra Indonesia lebih dikenal secara global.
oOo
Kabar BRICS Award ini jadi menu diskusi saya dengan Orakadut selain banjir bandang di Sumatra pada akhir November – awal Desember 2025.
Pada akhirnya, saya ingin mengutip teori katarsis ala Aristoteles dalam bukunya – Poetica (335 SM – 323 SM), bahwa pentas teater yang memunculkan peristiwa tragis, dramatis, yang bisa membuat kita takut, sedih, dan tidak terjangkau oleh pengalaman kita, bisa menimbulkan efek positif. Penonton teater itu akan merasa, bahwa kehidupannya yang pahit itu tidak seberapa dengan yang tadi dipentaskan.
Barangkali puisi esai juga begitu. Si penulisnya akan merasa beruntung karena nasibnya tidak lebih pahit dari apa yang ditulisnya.

Ya, aku rasa Puisi Esai Denny JA berada di sana. Aku sudah membuktikan di beberapa kota; Serang, Cilegon, dan Kuningan. Para penulis merasa terlibat dengan peristiwa yan mereka tulis ulang dalam bentuk puisi esai. Muncul rasa empati. Setiap hari, aku menerima banyak email berisi Puisi Esai Gen Z agar ditayangkan di media online https://golagongkreatif.com . Denny JA Foundation menyediakan honorarium Rp. 300 ribu bagi yang puisi esainya tayang. Aku sebagai redaktur sangat menikmatinya.
Semoga catatanku di awal Desember 2025 ini semakin menguatkan kita, bahwa perbedaan itu indah. Semoga dialektika ini tetap mendapat restu dari Hegel dan kita tetap bersahabat. Jangan sampai omongan Ade Ubaidil – relawan Rumah Dunia, terbukti benar, “Kok, rasa-rasanya musuh penulis itu ternyata sesamA penulis, ya!”
Tetap semangat, Kota Serang 1 Desember 2025
*) Gol A Gong adalah penulis dan Duta Baca Indonesia 2021-2025
*) Membaca Itu Sehat, Menulis Itu Hebat
*) Berdaya dengan Buku


