Jika ada yang tertarikBALADA SI ROY UNTUK LITERACY JOURNEY HelloSalam ransel.Banyak yang bertanya kepada saya, “Mas Gong. Itu 3 bulan traveling ke 12 negara, biayanya …
Balada Si Roy dan Gol A Gong Literacy Journey

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Jika ada yang tertarikBALADA SI ROY UNTUK LITERACY JOURNEY HelloSalam ransel.Banyak yang bertanya kepada saya, “Mas Gong. Itu 3 bulan traveling ke 12 negara, biayanya …

“Dunia milik orang-orang pemberani, berani dalam mengungkapkan sesuatu yang baru dan siap menghadapi segala risikonya.” (Cuplikan orasi Orakadut, si Gila dari Kota Golokali) oOo “Jadi, …

Aku selalu senang mengutip Multatuli, “Ya, aku bakal dibaca!” Maka aku pun menulis kisah hidupku agar orang-orang bisa bercermin dari kisahku. Ini kusadari betul, bahwa hidupku terdiri dari banyak kisah. Orang-orang sering iseng bertanya, “Jika kamu sekarang berlengan dua, apa yang akan kamu lakukan?”

Saya suka dengan judul buku ini: Avonturir. Saya mengumpulkan bahan-bahannya pada rentang 1985-87; saat itu saya keliling Indonesia selama 2 tahun. Tadinya buku ini mau digarap jadi film Balada Si Roy sequel kedua. Tapi sequel pertamanya tidak box office, tampaknya batal.

Keunikan Jl. Yumaga saya pindahkan ke novel Balada Si Roy. Tokoh Roy sering nongkrong di sini. Tapi sekarang tidak lagi saya temukan anak-anak muda kreatif nongkrong di jalanan. Mungkin di era sya remaja belum ada cafe dan gadget serta internet. Di era saya, semuanya memilih nongkrong di ruang terbuka.

Sarapan di Dapur Sunda yang penuh kenangan. Sambil makan, saya terus bercerita kepada Tias tentang jalan Yusuf Martadilaga, Kota Serang. Tias meminta saya bertukar tempat. Tadinya saya membelakangi jalan Yumaga. Sekarang saya duduk menghadap jalan Yumaga. Di sinilah tokoh Roy di novel Balada Si Roy nongkrong. Jalan Yumaga memang ibarat cat walk.

Di novel Surat dari Bapak, menceritakan dampak buruk kepada putra si koruptor. Di tempat kuliahnya, si putra koruptor mendapatkan perlakuan kasar, mulai dikucilkan dan dibully di medsos. Novel “Surat dari Bapak” mendapatkan penghargaan dari KPK.

Segala sesuatu harus ada akhirnya, seperti juga hidup kita. Novel serial Balada Si Roy juga begitu, berakhir di episode: Epilog.

Sesekali saya datang sendiri ke warung kopi itu di depan bioskop Merdeka, Royal, Kota Serang. Saya ngopi dengan tukang becak tanpa mencampurnya dengan alkohol seperti jika sedang bersama geng motor. Kopi tubruk yang luar biasa pahit. Mereknya kopi cap kupu-kupu dan gentong. Perayaan ngopi dengan kaum proletar ini sangat puitis dan saya catat di hati dan pikiran. Saya memang sedang mengisi ceruk batin saya untuk menyiapkan diri jadi penulis. Saat SMA saya penggemar cerita bersambung di koran KOMPAS.

Menulis novel dalam sehari? Ratusan halaman? Hampir mustahil. Jika ada, saya angkat jempol dan luar biasa – saya akan belajar kepada orang itu. Asumsinya 1 halaman dengan proses berpikir 1 jam. Berarti sehari 24 halaman. Oke, sejam 2 halaman, berarti sehari 48 halaman. Tambah lagi sehari 4 halaman, berarti 96 halaman? Yakin kuat duduk seharian tanpa melakukan aktivitas lain?

Lelaki tidak boleh menangis? Di novel Balada SiRoy yang saya tulis, tokoh Roy menangis. Jadi lelaki itu boleh menangis. Yang tidak boleh itu lari dari tanggung jawab. Menjadi lelaki adalah belajar bagaimana menghargai hidup dengan cara bangkit lagi.

Itulah hebatnya cerita-cerita Hollywood yang diimpor ke kita, selalu ada unsur literasinya. Bagaimana dengan film kita? Di novel Balada Si Roy yang akan difilmkan Fajar Nugros dengan bendera IDN Pictures Januari 2021i, kuat sekali unsur literasinya. Di dalam tas ranselnya, Roy selalu membawa buku-buku seperti novel atau komik. Di rumah Roy juga ada perpustakaan.

kalau menulis novel itu dari realitas ke fiksi harus memerhatikan 2 hal penting, yaitu: unsur intrinsik dan soap opera covention. Dengan 2 hal penting itu tadi, ide dasar novel dari kisah hidup sendiri atau orang lain akan berkembang dengan penuh imajinasi.

kenapa novel saya bisa best seller punya kamu tidak? Apalagi seperti karya Habiburrahman El Shirazy, Asma Nadia, Ahmad Fuadi, Pidi Baiq, Andrea Hirata, dan Tere Liye! Novel mereka kategori mega best seller. Ketika difilimkan juga box office! Ya, kenapa? Rata-rata novel mereka temanya kuat, alur ceritanya variatif atau maju-mundur dengan plot yang kuat, setting lokasinya juga menarik.

Tiga pilar itulah yang kemudian membentuk saya seperti sekarang ini. Kekuatiran lingkungan bahwa saya akan jadi beban sebagai orang cacat di masa depan – alhamdulillah – tidak terbukti. Buku membuat saya jadi berdaya. Itu sebabnya ketika Perpustakaan Nasional menetapkan saya sebagai Duta Baca Indonesia, 30 April 2021, tagline yang saya usung adalah “Berdaya dengan Buku”.
Berjumpa dengan Gol A Gong hari ini bersama 19 penulis terpilih dalam kegiatan Duta Baca Indonesia menjadi momen spesial dan tak akan pernah terlupakan.

Kenangan adalah motor dan perempuan. Begitulah Roy. Kamu, bagaimana?