Di bangku kuliah saya gemar menulis di koran. Bagi saya pribadi, menulis di media cetak punya nilai tersendiri. Ketika tulisan kita terbit, kita dapat melihat, memegang, melipat, mengkliping tulisan tersebut. Ketika koran tersebut terbit akan ditarok di meja-meja kantor, rumah-rumah orang kaya. Semua lapisan dapat membaca, dari direktur hingga tukang sayur. Ketika tulisan kita mampang, lengkap dengan foto penulisnya, itu adalah sebuah kebanggaan yang tak ternilai.

Mengobati rindu dengan jurnalisme itu, saat ini saya mewujudkannya dengan membuat Mading (Majalah Dinding) di Taman Baca saya di rumah. Walau cuma majalah dinding, tapi proses kerja jurnalisme ada di dalamnya. Saya juga memikirkan kontennya. Melakukan editor layaknya seorang pemred. Muatan isi halaman mading ini hanya seputar taman baca di rumah. Peristiwa sekecil apapun di rumah kalau ditulis semenarik mungkin juga akan enak dibaca. Mading di rumah hanya 6 halaman. Setelah melakukan orbservasi dan menulisnya, tulisan tersebut saya layout menggunakan aplikasi Canva. Zaman sekarang teknologi sangat mendukung, saya tidak perlu lagi menginstal adobe di laptop. Hasil layout di Canva akan saya print di atas kertas, lalu saya tempel di papan Mading. Tempelan tadi akan diganti dua kali seminggu.

Rutinitas ini menjadi terapis bagi saya. Ada kepuasan tersendiri ketika edisi mading terbaru berhasil “terbit” dan dibaca anak-anak di TBM. Banyak aktivitas kreatif lain yang bisa didorong dengan mengelola mading di rumah. Misalnya pelatihan menulis berita sederhana, pelatihan wawancara dengan teman dekat, latihan menjadi pembaca berita, photographer, membuat komik, dan aktivitas jurnalisme lainnya. Mading mungkin bisa menjadi solusi ditengah gempuran media digital yang tidak bisa dibendung. Saya pikir, kita sejatinya butuh juga rehat sejenak, walau berhenti untuk online itu juga mustahil. Mata perlu diistirahatkan dari lensa HP, tangan perlu bebas dari panasnya smartphone ketika dipegang, jari-jari juga rindu merasakan tekstur kertas.




