Roy begitu teraniaya ketika ia ketemu dengan geng Borsalino anak pengusaha yang diduga punya jejaring jawara yang menguasai semua siswa bahkan kepala sekolah juga tunduk dengan geng ini. Serta merta Roy dengan gengnya dihukum. Sementara Dullah bersama gengnya malah tidak dihukum. Padahal kesalahan terbesar ada pada Dullah anak pengusaha yang diduga punya jejaring jawara.

Tetapi Roy harus mengalahkan Geng Borsalino agar tidak semena-mena. Bahwa Roy harus bertarung dengan Dullah di Pantai Anyer karena perebutan cinta Ani. Kemudian Roy kena santet, kemudian didalamnya ada Petrus (Penembak Misterius), ada disikotik Pulorida Merak juga tempat berjoget dan bergoyang, ada balapan motor, ada membaca diperpustakaan, ada kabur dari sekolah kemudian belajar pada alam (ketukang becak, ke pemandu wisata, keoarang -orang yang tanahnya dirampas penguasa).

Pokoknya unik. Cara dapat cewek cantik dengan mengalahkan bapaknya main catur. Pokoknya unik se unik-uniknya. Roy itu laki-laki banget. Semua penjelasan ini bisa dinikmati oleh para penonton awam. Seru dan sangat menegangkan. Belum lagi para aktor wanitanya cantik-cantik dan lincah.

Sementara jika kita melihat dari segi ikonik. Film Balada Si Roy memunculkan ikon -ikon Banten. Patung pahlawan, Alun-alun Serang, Benteng Kaibon, pantai Anyer, Santet dan pelet. Jawara yang lurus, Bahasa sunda dan jawa Banten.
Tetapi dibalik itu semua jika kita menjadi penonton yang kritis dan bukan penonton awam kita akan selalu mempertanyakan tentang ikon, indeks dan simbol. Dalam dunia kampus disebut dengan teori Tanda dan Penanda. Kenapa Roy, membawa sepeda balap, kemudian Roy berkawan dengan anjing,

Siapa Dullah si Anak pengusaha yang diduga punya jejaring dengan jawara yang membawa mobil Hardtop. Kenapa Dede Yusuf sebagai orang kaya dalam film ini selalu membagikan amplop pada orang miskin. Ada apa dengan orang miskin? Ada apa dengan kepala sekolah yang memihak pada Dullah? Apakah takut dicopot jabatannya?. Kenapa motor yang sudah janji mau dibeli dengan hasil jual mesin ketik dan celengan jago yang sudah dipecahkan tiba-tiba batal dibeli Roy dan dibeli dengan Dullah. Semua itu bisa dijawab dengan teori Tanda dan Penanda.

Saya kira dalam Film ini yang diangkat dari Karya Novel Gol A Gong tidak sedang membicarakan dirinya. Tapi dia sedang membicarakan daerahnya, bahkan Indonesia. Kita semua percaya bahwa karya sastra lahir dari mimesis karya sastra itu ditulis. Bahwa Gol A Gong sedang mengajak pada anak muda Banten dan Indonesia harus mau melawan keadaan dengan keberanian mengatakan yang salah itu salah dan yang benar itu benar.

Tapi yang penting dari film ini adalah kita semua disuruh membaca lalu menuliskannya. Tonton saja, menjelang akhir dari film ini ketika Roya sudah mau menuliskan persoalan daerahnya. Lalu Roy menuliskannya di koran. Hanya ada satu kata “Habisi!”

Pada akhirnya, karya sastra termasuk film di dalamnya, tidak sekadar menghibur ia pun berfungsi harus bisa mendidik (dulce at utile). Selamat menonton dan selamat bersitegang dengan keadaan.

Yang penasaran dengan Film Balada Si Roy, silahkan tonton pada 19 Januari serentak di seluruh bioskop kesayangan Anda.


