Menelusuri Romansa dan Budaya Banten dalam Novel Bulan Sabit Tua

Oleh Salis

Saya bukan seorang penulis. Saya hanya tutor Bahasa Indonesia di salah satu bimbel di wilayah Serang–Cilegon, yang sehari-hari terbiasa mengoreksi tulisan dan menjawab soal-soal literasi. Namun kali ini, saya ingin mencoba memberikan ulasan mengenai sebuah buku yang berhasil mencuri perhatian saya, dari perspektif pembaca Gen Z.

Bulan Sabit Tua merupakan novel perdana karya Fajarmana. Novel ini mengusung genre romansa yang terasa tidak biasa. Di dalamnya, pembaca tidak hanya disuguhkan kisah cinta, tetapi juga berbagai pembelajaran yang dapat dipetik.

Novel ini memilih Kota Serang sebagai latar tempat, sekaligus menyisipkan berbagai unsur budaya Banten. Melalui cerita yang mengalir, pembaca diajak mengenal budaya lokal yang mungkin jarang diangkat dalam novel romansa. Selain itu, sesuai dengan judulnya, Bulan Sabit Tua juga memperkenalkan pengetahuan tentang fase-fase bulan yang dijadikan penanda waktu dalam cerita.

Novel ini terasa ringan dan cocok dibaca di waktu luang. Pilihan yang tepat bagi pembaca yang mencari hiburan dengan cerita yang hangat dan gaya bahasa yang menyenangkan.

Di balik malam yang tenang dan bulan sabit yang menggantung, tersimpan kisah cinta yang tak pernah benar-benar utuh. Bulan Sabit Tua mengajak pembaca menelusuri romansa manis, lucu, sekaligus menyayat hati antara Ridwan—seorang mahasiswa, barista, sekaligus pendekar muda—dengan Rinjani, aktivis kampus yang perlahan memikat hati dan pikiran Ridwan.

Melalui sebuah diari yang ditemukan oleh Salsa, murid padepokan Ridwan sekaligus sahabat Rinjani, satu per satu rahasia dan kenangan masa lalu terkuak. Aroma kopi hangat di sudut coffee shop, malam-malam menyusuri indahnya Kota Serang, hingga fase-fase bulan yang dilewati bersama, semuanya terjalin dalam kisah yang hangat, namun penuh ironi.

Novel ini bukan sekadar cerita cinta. Ia adalah perjalanan rasa yang membuat pembaca tersenyum, tertawa, dan mungkin menangis dalam diam.

Novel yang mengangkat kisah romansa dengan taburan budaya dan pengetahuan umum ini cukup membuat pembaca betah berlama-lama. Fajarmana menghadirkan sesuatu yang berbeda dengan menggunakan fase bulan sebagai penanda waktu, alih-alih tanggal dalam kalender Masehi seperti yang umum ditemukan dalam novel lainnya. Mulai dari fase kuartal awal hingga fase bulan mati, semua menjadi bagian dari perjalanan cerita.

Karakter tokohnya pun terasa cukup kuat. Ridwan digambarkan sebagai sosok humoris dan bijaksana, sementara Rinjani tampil tegas namun ceria. Karakter-karakter pendukung lainnya juga meninggalkan kesan yang mudah diingat. Alur yang digunakan adalah alur campuran, yang membawa pembaca bolak-balik antara masa lalu dan masa kini tanpa terasa membingungkan.

Lembar demi lembar cerita membuat pembaca enggan beranjak. Hingga pada bagian akhir, pembaca akan menemukan sesuatu yang tidak terduga—sebuah ending yang mungkin tidak terpikirkan sejak awal membaca.

Melalui novel perdananya ini, Fajarmana berhasil meninggalkan kesan pertama yang baik. Tidak mudah membuat pembaca larut dalam cerita sejak buku pertama, namun melalui Bulan Sabit Tua, ia mampu menghadirkan tawa dan tangis secara bersamaan. Karakter yang kuat, alur yang tidak mudah ditebak, serta gaya bahasa yang terasa dekat dengan pembaca muda menjadi kekuatan utama novel ini.

Novel ini juga telah mendapat apresiasi dari Duta Baca Nasional, Gol A Gong dan penulis Pidi Baiq, sebagaimana tercantum pada sampul belakang buku.

Namun, menurut perspektif saya, novel ini tetap memiliki kekurangan. Hubungan romansa antara Ridwan dan Rinjani terasa berkembang cukup cepat. Jika digarap dengan detail yang lebih mendalam, kisah keduanya mungkin akan terasa lebih kuat secara emosional.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk kalian yang baru mulai suka membaca, atau membutuhkan bacaan yang ringan. Kalian bisa mendapatkan banyak sensasi setelah membaca bukunya, dan dapat dipastikan ingin segera membaca novel karya Fajarmana selanjutnya.

IDENTITAS BUKU 

Judul   : Bulan Sabit Tua

Penulis   : Fajarmana 

Penerbit   : Ellunar Publisher

Tahun Terbit   : 2025 

Tebal Halaman  : 319  Halaman

Ukuran Buku : 14 x 20 cm 

ISBN : 978-623-385-663-8

TENTANG PENULIS : 

Halo, aku Salis, waktu nulis ini sih umurku 23 tahun. Aku tutor Bahasa Indonesia di salah satu Bimbel Serang-Cilegon. Sebagai seorang anak bahasa, aku sebenarnya ga bahasa-bahasa banget, sastra apa lagi, tapi senang aja, suka gitu. Semoga kalian senang membaca tulisanku, yang lebih mirip tugas materi teks ulasan yang harus dikumpulkan minggu depan itu, hehe.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==