Oleh: Bella – Peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 42
Sebenarnya, sudah jauh-jauh hari aku, Sintiya, dan juga Musyarofah berencana bermain ke playground bersama anak-anak kami. Tetapi kami ditelan kesibukan masing-masing di tempat bekerja. Hingga akhirnya, di suatu sore, Musyarofah berkata:
“Hayu lah jadiin, nggak jadi-jadi mulu rencana kita!”
Hari itu juga, tepat di tanggal 7 November seusai bekerja, kami pun bersepakat untuk bermain di Playground Ramayana Kota Serang. Hatiku sungguh berdesir membayangkan keseruan apa yang akan kami rasakan nanti.
Aku, Sintiya, dan Karyn, anakku, pergi menggunakan motor. Jarak yang dibutuhkan untuk menempuh tempat itu sekitar 15 menit. Musyarofah beserta suami dan anaknya tidak pergi bersamaan dengan kami karena ada keperluan terlebih dahulu.

Akhirnya, kami sampai. Setelah mendapatkan tiket dan memarkirkan motor, kami tak sabar untuk segera masuk ke arena main. Namun, playground tersebut ternyata ada di lantai paling atas, di lantai 5. Mau tidak mau, kami harus menelusuri lift demi lift untuk sampai ke sana.
Mata kami dimanjakan oleh koleksi tas, sepatu, dan baju-baju yang bergantung dengan manja di manekin. Mereka seolah melambai, meminta kami untuk membungkus saja atau sekadar melihat-lihat. Sintiya menangkap lirikan mataku. “Weysss, jangan mampir ah, nanti lagi shopping mah!” sambil tersenyum tipis. Aku nyengir mengangguk. “Oke, it’s time to play, not shopping.”
Tibalah kami di lantai lima. Ada dua pegawai yang berjaga dan bertanya kepada kami.
“Tetehnya mau masuk nemenin?”
“Kami mau juga main, bukan cuma anak-anak. Bisa kan, Mba?” tanyaku penuh harap.
“Iya, bisa, Teh. Satu anak satu pendamping harganya Rp45.000. Karena artinya dua pendamping, jadi ada charge Rp30.000 ya, Teh.”
Tak masalah soal harga, yang penting kami bisa bermain mengenang masa-masa kecil. Selesai transaksi menggunakan QRIS, kami menyimpan tas di loker penitipan barang. Kaki Karyn sudah lebih dulu berlari; arena main yang lebih dahulu ditujunya adalah kolam mandi bola.
Ruangannya cukup luas, ada enam arena main di sana: ayunan, jungkit-jungkitan, kolam bola, lorong panjang tempat duduk dan ayunan kecil, kolam pasir, serta tangga kecil yang menghubungkan tempat loncat-loncatan di atas arena kolam bola. Kami bermain dengan tawa yang sangat lepas. Aku melihat senyuman dan jeritan yang keluar dari mulut Karyn, hatiku sungguh mencelos, dan tawa Sintiya membuatku berpikir, tidak apa-apa sesaat menjadi anak kecil lagi. Semua ini terasa sungguh menyenangkan.
Tak lama, Musyarofah dan keluarganya datang. Tawa kami sungguh lepas. Seolah semua beban dan ketegangan di tempat kami bekerja hilang begitu saja.

Suami Musyarofah dengan setia menemani anaknya yang ikut bergabung dengan Karyn, yang sedang asyik melempar pasir-pasir.
Tak terasa, hampir tiga jam kami bermain. Kami benar-benar tenggelam dalam keasyikan tersebut. Hingga akhirnya, aktivitas kami dihentikan oleh teriakan suami Musyarofah.
“Hayu pulang, udah tutup!”
Kami bergegas ke depan dan bersiap pulang. Mata kami saling pandang. Sudah tidak ada penjaga di depan.
“Wah, kalau nggak diingetin mungkin bisa sampai jam 12 malam.” Kami terkekeh bercampur heran. “Kok bisa-bisanya kita ditinggalin sih? Gimana kalau ada kunti main di sini?” Musyarofah memang pandai bergurau.
Sebelum benar-benar pulang, kami mengabadikan momen dengan berfoto-foto. Sampai akhir, rasa damai itu masih tertinggal. Di akhir caption yang kuunggah di media sosial, aku menuliskan:
“Tidak apa-apa kan menjadi anak kecil lagi untuk sesaat?”
Rasanya, tidak mau beranjak dari tempat ini. Namun, kami harus melanjutkan hidup lagi menjadi orang dewasa. Setidaknya, bermain seperti ini dapat mengisi ulang energi dan mengurangi keletihan yang kerap datang.



