Oleh Jordy Alghifari Harris
15 tahun terjun ke dalam dunia game, yang awalnya hanya sekadar main-main, hingga saat duduk di bangku SMP aku sudah bisa menghasilkan jutaan rupiah per minggu.
Pada tahun 2009, saat aku berumur lima tahun, aku pergi ke tempat sunat bersama keluarga. Waktu itu aku hanya menemani kakak kandung dan saudara yang memang sedang ingin disunat. Tapi, tiba-tiba aku yang masih polos malah disuruh sunat lebih dulu, dengan iming-iming hadiah berupa mainan Hot Wheels. Setelah selesai sunat, aku benar-benar mendapatkan Hot Wheels, tetapi kakakku justru mendapatkan hadiah yang lebih besar: PS1 (PlayStation).
Ketika kakakku mulai bermain PS di depan mataku, aku hanya bisa melihat dan diam-diam mempelajari cara bermainnya. Hingga suatu saat, kakakku menawarkan aku untuk ikut bermain. Tanpa ragu, aku langsung menerima tawaran itu. Dari sanalah rasa tertarikku terhadap dunia game mulai tumbuh.
Singkat cerita, saat umurku menginjak bangku kelas 2 SD, aku meminta orang tuaku untuk membelikan PS2. Permintaan itu akhirnya dikabulkan, karena orang tuaku sering pergi bekerja keluar kota, dan aku kerap ditinggal sendirian di rumah. Aku beralasan bahwa PS2 akan menjadi hiburanku agar tidak merasa kesepian. Sejak saat itu, setiap pulang sekolah, aku dan kakakku hampir selalu bermain game berjam-jam. Dari situ, aku makin jatuh cinta dengan dunia game.
Waktu berlalu begitu cepat. Kakakku mendapatkan beasiswa ke luar negeri, tepatnya ke Tanah Arab, sedangkan aku naik ke kelas 6 SD. Setiap harinya, aku bermain PS untuk mengisi kesepianku di rumah tanpa sosok orang tua dan kakak.


Setelah lulus SD, aku mulai beralih dari bermain PS ke game mobile. Pada tahun 2015–2017, ketika aku duduk di kelas 1 SMP, aku bermain game Growtopia. Game ini cukup sederhana dan mudah dimainkan. Di game itu, kita hanya perlu bekerja sebagai petani, lalu hasil panennya bisa dijual menggunakan mata uang dalam game. Mata uang tersebut adalah World Lock dan Diamond Lock. Yang paling mahal adalah Diamond Lock—satu Diamond Lock dihargai Rp100.000.
Sebelah kiri Games Mobile Legend, sebelah Kanan Games Growtopia
Singkat cerita, saat aku kelas 2 SMP, setelah satu tahun bertani dan mengembalikan modal usaha kebunku, aku mulai merasakan hasilnya. Aku bisa mendapatkan penghasilan Rp3–5 juta per minggu dari menjual hasil panen di Growtopia.
Uang yang kudapat tidak hanya kusimpan, tetapi juga kuputar kembali untuk memperbesar keuntungan. Relasiku dalam game pun berkembang; salah satunya adalah Juliwicks, yang kini sukses menjadi YouTuber dengan 700 ribu subscriber. Dari situlah aku memiliki cita-cita menjadi seorang gamer profesional.
Sebagai anak SMP yang bisa menghasilkan jutaan rupiah, aku bangga dan memberitahukan penghasilanku kepada orang tuaku. Namun, respons mereka ternyata tidak seperti yang aku harapkan. Alih-alih mendukung, mereka malah menyuruhku berhenti bermain game dan melarangku berjualan item dalam game, dengan alasan itu adalah judi. Aku merasa usahaku sia-sia.

Setelah kejadian itu, aku memendam semua sendiri. Aku menjadi lebih tertutup, jarang bercerita, karena takut mendapatkan respons yang tidak sesuai dengan ekspektasiku.
Ketika aku duduk di bangku SMA, aku bermain game hanya untuk iseng saja, sebagai bentuk “balas dendam” karena aku merasa usahaku dulu tidak dihargai.
Sekarang, di usiaku yang ke-20 tahun, aku sudah berhenti bermain game dan mengubur dalam-dalam mimpiku menjadi seorang gamer. Kini aku memilih untuk fokus membuat karya di bidang lain.





